Cerita Anak Bersekolah di Sekolah Murid Merdeka

 

Sekolah Murid Merdeka

Tahun ajaran baru kali ini, Aluna menyusul kakaknya untuk sekolah di Sekolah Murid Merdeka. Lagi-lagi keputusan ini jadi pertanyaan banyak orang-orang yang ada sekitar. Buat apa sekolah online? Toh, tahun ajaran baru ini anak-anak sudah boleh sekolah tatap muka. Mengapa nggak kembali di sekolah konvensional saja? 

Hmm, daripada mengulang-ulang jawaban, baiknya ditulis disini saja. Jadi kalau ada yang nanya alasan mengapa anak-anak sekolah di Sekolah Murid Merdeka, saya tinggal share link artikel ini. Kan lumayan, nambah page view sekalian. Hehehe. 

Okey, hari ini saya mau cerita tentang anak-anak yang sekolah di Sekolah Murid Merdeka, ya! 

Mengapa Memilih Sekolah Murid Merdeka? 

Perkenalan saya dengan Sekolah Murid Merdeka (SMM) dimulai setahun lalu. Saat itu, Chacha ingin pindah sekolah. Dia bosan, selama dua tahun sekolah online tapi cuma baca share materi di grup WhatsApp dan mengerjakan tugas saja. Kurang seru katanya. Dia bahkan minta homeschooling saja. 

Di tengah kesibukan mempersiapkan homeschooling Chacha, saya akhirnya tahu tentang SMM. Makin tertarik melihat siapa yang menginisiasi sekolah ini. Tanpa banyak pikir panjang, saya pun mantap memidahkan Chacha dari sekolah lamanya ke SMM. 

Lalu, apa yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih SMM ini? Ada dua yang jadi pertimbangan saya dalam memilih SMM ini, yaitu kurikulum dan sistem pembelajaran. 

Kurikulum SMM

Dasar kurikulum yang digunakan oleh SMM adalah Kurikulum Nasional atau Kurikulum 2013, yang kemudian dikembangkan oleh tim ahli SMM menjadi kurikulum berbasis kompetensi masa depan siswa. 

SMM menggunakan kurikulum yang berfokus pada proses pembelajaran 9 kompetensi di masa depan, yaitu : berkomitmen, mandiri, reflektif, cerdas, inovatif, berdaya, berprinsip, komunikatif, dan bekerjasama. 

Dimana sembilan kompetensi tersebut dilaksanakan dalam 6 program dan menggunakan cara 5M. Yuk, lebih jelasnya bisa dilihat dalam chart berikut.

Sekolah blended learning
Kurikulum SMM| booklet SMM


Sistem pembelajaran SMM

SMM menggunakan sistem pembelajaran blended learning. SMM adalah pelopor sekolah dengan sistem blended learning. Pembelajaran di SMM dilakukan secara daring dan luring. 

Dengan sistem pembelajaran seperti ini, anak bisa belajar secara fleksibel. Juga memiliki kesiapan dalam menyongsong pendidikan di masa depan. 

Pembelajaran di SMM

Metode pembelajaran di SMM
Media pembelajaran di SMM|booklet SMM 

Pembelajaran di SMM ini sangat variatif, sehingga anak tidak mudah bosan. Ada banyak tipe aktivitas pembelajaran di SMM ini. 

Tipe aktivitas pembelajaran di SMM terdiri dari :

1. Live teaching

2. Belajar mandiri

3. Belajar luring

4. Laporan hasil belajar

Penerapan pembelajaran di SMM ini adalah belajar menyenangkan dan pembelajaran bermakna. 

Belajar menyenangkan artinya anak belajar tanpa ketakutan dan bosan. Ada banyak variasi praktik pembelajaran, mulai dari permainan interaktif, dongeng, dan praktikum mandiri menggunakan toolkit yang sudah disiapkan oleh SMM. 

SMM juga melakukan pembelajaran bermakna, artinya pembelajaran yang dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Jadi anak lebih mudah mengaplikasikan apa yang sudah dipelajari. 

Anak-anak belajar online melalui LMS (Learning Management System) SMM. LMS ini bisa diakses melalui browser ataupun aplikasi yang bisa diunduh di iOS dan PlayStore. 

Di LMS ini anak akan memiliki akun belajar. Semua aktivitas pembelajaran secara online dilakukan melalui LMS ini. Mulai dari live teaching, mengerjakan tugas-tugas mandiri, hingga laporan hasil belajar. 

Sedangkan belajar luring dilakukan di Hub SMM yang tersebar di seluruh Indonesia. Kebetulan, kalau di Surabaya, ada di daerah Ngagel Jaya Tengah. 

Sekolah Murid Merdeka
Saat belajar luring 

Kelas luring ini tersedia dengan beragam pilihan. Luring rutin dilakukan seminggu 3x, ada juga yang sifatnya optional. Bisa ikut sesuai kebutuhan. Selama ini Chacha ikut luring seminggu sekali atau kadang juga dua minggu sekali. 

Ijazah SMM

Ada juga yang bertanya, SMM ini statusnya apa? Sekolah formal atau PKBM? Apakah ijazah SMM bisa digunakan untuk jenjang pendidikan selanjutnya, misalnya apakah anak SD SMM bisa sekolah di SMP negeri? 

SMM ini statusnya adalah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, PKBM adalah pendidikan non formal yang kedudukannya sama seperti Sekolah, yang merupakan pendidikan formal. 

Ijazah SMM diakui secara nasional dan bisa digunakan untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Murid PAUD SMM akan mendapatkan raport, e-portofolio, dan sertifikat ketika sudah menyelesaikan masa pembelajarannya. 

Sedangkan untuk jenjang SD hingga SMA, maka akan mendapatkan ijazah, raport, e-portofolio, dan sertifikat. Jadi, jika suatu saat Chacha ingin kembali ke sekolah konvensional, maka nggak ada masalah. 

Keunggulan Sekolah di SMM

Lalu, apa saja sih keunggulan sekolah di SMM ini? Mengapa akhirnya dua anak saya belajar di SMM? 

Sesuai kompetensi masa depan

"Didiklah anakmu sesuai zamannya", teman-teman pasti sering mendengar petuah ini. Ini juga yang mendasarkan saya memilih SMM. 

Kurikulum SMM
Saat live teaching bersama guru


Kedua anak saya ini adalah generasi Z, generasi yang sangat akrab dengan teknologi. SMM adalah sekolah berbasis teknologi. Pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan para generasi Z. Nggak hanya belajar lewat LMS saja, di SMM anak-anak belajar melalui video pembelajaran, kuis interaktif, hingga game. 

Nggak hanya itu, SMM juga membuat anak bisa menguasai kompetensi masa depan yang tentu sangat berguna anak. 

Dan tentu SMM ini sesuai banget sama cita-cita pendidikan Indonesia saat ini, Merdeka Belajar. Di SMM nggak hanya mengajak anak untuk Merdeka Belajar saja, tetapi juga Merdeka Berkarya dan Merdeka Berkolaborasi. 

Proses pembelajaran yang fleksibel

Di SMM anak bisa belajar secara fleksibel. Bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Pilihan kelas online ada di pagi dan sore hari. Kalau tidak ikut kelas online juga nggak masalah. Anak juga bisa belajar mandiri dengan mendengarkan rekaman yang tersedia di LMS. 

Biaya terjangkau

Bisa dibilang, SMM ini biayanya cukup terjangkau. Dengan kualitas sebagus itu, sekolah di SMM cukup membayar sekitar 5 jutaan selama setahun. Pembayaran dengan sistem cicilan pun dibolehkan. Kebetulan saya memilih membayar secara cash uang sekolah selama setahun. 

Toolkit yang menarik

Biaya SMM
Toolkit selama setahun 


SMM menyediakan toolkit yang menarik untuk mendukung proses pembelajaran. Ada toolkit basic dan add on. Toolkit basic sudah include dengan SPP yang dibayarkan. Sedangkan yang add on sifatnya pilihan, boleh beli boleh tidak. Toolkit ini setiap triwulan sekali. Sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan. 

Review Sekolah Murid Merdeka
Contoh isi playkit 


Sesuai dengan kurikulum keluarga

Bisa dibilang alasan paling kuat mengapa semakin mantap di SMM adalah sesuai dengan kurikulum keluarga kami. Selama ini kami menerapkan home education. Sebagai orang tua, tetap kami yang memiliki tanggung jawab utama untuk pendidikan anak-anak. 

Di SMM, orang tua wajib terlibat dalam proses pendidikan anak-anak. Orang tua menjadi fasilitator pembelajaran anak-anak di rumah. 

Kurikulum yang ada di SMM bisa sejalan dengan kurikulum home education kami. Dimana anak bisa mengembangkan semua aspek fitrah yang dimilikinya. Bisa bebas belajar dan mengembangkan minat dan bakatnya. 

Saat anak-anak sekolah konvensional, kami kesulitan menerapkan kurikulum keluarga. Anak-anak belajar dengan waktu yang sangat lama, dan banyak tugas-tugas yang harus dikerjakan. Anak tidak punya waktu dan tenaga untuk mengembangkan minat dan bakatnya. 

Penutup 

Selama setahun ini tidak ada hambatan yang berarti saat Chacha sekolah di SMM. Dia menikmati setiap proses pembelajaran. Kompetensinya juga meningkat. 

Dia tetap memiliki kemampuan bersosialisasi meskipun banyak melakukan interaksi secara online dengan guru dan teman-temannya. 

Oke, sekian cerita saya tentang anak yang bersekolah di Sekolah Murid Merdeka. Semoga tulisan ini bisa menjawab rasa penasaran teman-teman tentang pilihan pendidikan keluarga kami. 

Kalau masih ada yang mau ditanyakan, boleh lho ditulis di kolom komentar.

Terima kasih.




Comments

  1. Menginspirasi sekali kak ceritanya

    ReplyDelete
  2. Saya baru tahu ada Sekolah Murid Merdeka, Mbak. Ini saja ada kabar baru sekolah sekarang pakai kurikulum merdeka. Dan menurut saya, SMM ini bagus, karena kelasnya fleksibel, sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Soalnya memang, tidak semua anak nyaman dengan sekolah biasa. Jadi kalau anak enjoy, maka sekolah di mana saja dan dengan metode apa saja, maka hasilnya akan maksimal.

    ReplyDelete
  3. Mantuulll, mba Dee

    Klo mau anak² ter-explore potensinyaaa memang butuh sinergi antara guru dan ortu yaaa

    sMM keren buangettt, semoga berkah

    ReplyDelete
  4. Jadi belajar online pakai Learning Management System SMM ya? Bisa dari web maupun unduh aplikasi, serta pembelajaran menggunakan tool kit yang menarik. Wah, semoga si dedek kesayangan mamah semakin pandai dan sholelah ya. Buat teman2 yang butuh info Sekolah Murid Merdeka bisa cuzz baca di sini deh, mantap mbak :D

    ReplyDelete
  5. Keren dede Chacha dengan tekad kuatnya untuk belajar, dan Mama Dee pun bisa mewujudkannya dengan bertemu sekolah yang tepat. Semangat terus ya belajarnya

    ReplyDelete
  6. Sekolah merdeka yang baru rilis jadi lebih tahu dan kenal metode pengajaran dan kurikulum yang dipakai

    ReplyDelete
  7. Wah keren ya ada Learning Kit yang diberikan jadi tidak perlu khawatir ketinggalan bahan belajar
    Shanum mau ga ya sekolah model seperti ini?
    Mari kita lihat nanti

    ReplyDelete
  8. Menurutku sekolah Murid Merdeka ini menarik sih. Benar-benar sesuai dengan namanya. Murid yang merdeka. Bebas mau sekolah dari mana saja. Nggak harus selalu di kelas. Pun nggak mesti selalu harus online. Bisa variatif dan bikin anak didik nggak bosan tentunya ya, Kak.

    ReplyDelete
  9. Dulu ketika anak-anak PJJ, sempat tertarik sekali dengan SMM ini. Seru sekali lihat sistem belajarnya. Rencana saya dulu ingin saya tandemkan dengan sekolah anak-anak sekarang. Tapi berhubung sudah offline kembali, akhirnya batal hix.

    ReplyDelete
  10. Sekolah Anak Merdeka ini memang memberikan kenyaman untuk anak berpikir dan berkreasi apalagi belajarnya emang sesuai dengan kebutuhan. ngga bikin anak pusing dan jadi enjoy sekolahnya

    ReplyDelete
  11. Sebenernya saya udah kepo tentang SMM ini
    Pas zaman pandemi, online school gini sempet menarik perhatian saya
    Teman saya pun ada yang ikut
    Kegiatannya seru-seru sepertinya

    Tapi berhubung saya working mom dan sekolah offline sudah dibuka kembali, saya memilih anak saya masuk ke sekolah formal (PG-TK)
    Energi saya sudah habis di malam hari 😅

    Saya salut banget sih sama orang tua kayak mba yang konsisten dan komitmen home educational seperti ini

    ReplyDelete
  12. Wah keren mbak, bisa memilih sekolah sesuai dengan keinginan anak dan sesuai dengan visi misi ortu. Pembelajaran yang fleksibel tentu membuat anak tidak mudah bosan ya, karena disesuaikan dengan mood mereka. Apapun pilihan kita, semoga bisa mengantarkan anak2 kita menjadi generasi yang cerdas dan berakhlaqul karimah.

    ReplyDelete
  13. Salut sama orangtua yang bisa komitmen, konsisten dan fokus mendamping anak sekolah online dengan sekolah anak merdeka

    ReplyDelete
  14. Keren mbak value keluarga nya cocok dengan SMM. Aku udah coba untuk anakku pas TK tapi kurang cocok karena ank cuma mau ikutan yang kelas offline nya saja. Sedangkan kelas online nya dia ga mau. Hiks. Untuk tugas yang diupload ke aplikasi juga Mayan jadi PR tersendiri buat ortu mendampingi. Saya waktu itu ada bayi terus terang repot bagi waktunya. Memang SMM bagi yang home schooling sangat membantu sekali

    ReplyDelete
  15. wah salut sih kalau dari mbak sendiri lebih memilih homeschooling sebelumnya dan sekarang pindah ke SMM. Sepertinya anak sekarang jadi lebih kritis ya karena mereka udah dekat sama gadget, apalagi kalau dilihat SMM sepertinya punya metode pengajaran yang menarik.

    ReplyDelete
  16. Baru tau tentang SMM setelah membaca sebetulnya sama seperti sekolah online anak2 saya kemarin. Ketika pandemi onlinenya aktif 2 arah, jamnya spt jam sekolah pagi tapi sampai siang yg SD yg SMP sampai sore.

    Setiap pelajaran ada penjelasan plus ty jawab antar siswa, praktek2 juga ada nah kalau anak ga fokus di twgur krn ada guru yg cek anak jd ga bs di tinggal.
    Tugas pake google classroom.

    Sekarang alhamdulillah sdh offline kembali tapi tetep.masih ada tugas2 lewat online. (Gusti yeni)

    ReplyDelete
  17. Seru banget yaa...belajar di SMM.
    Yang paling aku suka di tulisannya Dee di sini adalah ketika orangtua dan anak sudah sama-sama bersinergi, maka gak ribet sama memilih pembelajaran apa yang sesuai.
    Orangtua punya visi misi mengenai pendidikan anak karena melihat, memahami dan mendengar apa yang dibutuhkan ananda. Alhamdulillah~

    ReplyDelete
  18. SMM ini menjadi pilihan yang bagus sejak pandemi yaa mba. sekarang kayaknya ada offlinenya juga ya? banyak juga nih temen2ku yang ambil SMM.. aku juga sempet mau ikutan tapi gajadii.. akhirnya ambil skeolah deket rumah

    ReplyDelete
  19. Banyak juga ya mbak yang sekolah SMM. Tapi kalau buat anakku gak cocok deh. Soalnya kalau online dia di rumah trus cenderung mau main game atau hp terus. Kalau di sekolah offline dia seneng Banyak ketemu teman -teman dan bisa berkeggiatan

    ReplyDelete
  20. Baru tau ada yang namanya Sekolah Murid Merdeka. Ini sepertinya ada perpaduan atau memasukkan unsur homeschooling gitu ya? Jadi keinget buku Toto Chan. Kalau anak dengan karakter seperti Totto Chan cocok banget nih sekolah semacam ini. Dia akan lebih berkembang dibanding sekolah formal.

    ReplyDelete
  21. Senangnya jika anak dan orangtua sama nyamannya dengan pilihan belajar. SMM bisa jadi solusi untuk pendidikan berbasis home education, dengan metode kekinian, dan biaya terjangkau. Dari penjelasan Mba Dian jadi tahu saya perihal SMM ini, enggak penasaran lagi

    ReplyDelete
  22. Keren banget tuh Mbak bisa cocok sama kurikulumnya SMM. Aku bayangin aja udah capek, iya emang berkeluarga sih. Padahal udah resiko ya. Tapi beneran deh, kurikulum merdeka ini cakep banget kalau bisa beneran diikuti.

    ReplyDelete
  23. Pengen banget nyekolahin anak di sini tapi kelasnya jauh dari rumah. Kalau full di rumah aku juga suka keteteran hehe. Seneng ya mbak kurikulumnya cocok dengan keluarga

    ReplyDelete
  24. Ini di Surabaya ya mba kalo ga salah? Aku cek di gmaps kok kebetulan areanya lumayan dekat rumah. Aku lagi cari sih sekolah yang seperti ini, mirip kurikulum pendidikan keluarga. Makasih sekali mba reviewnya bisa jadi bahan pertimbangan untuk sekolah anakku besok

    ReplyDelete
  25. Masyaa Allah kayaknya keren deh sekolah murid merdeka ini, bisa jadi referensi buat sekolah anak di masa drpan nih

    ReplyDelete
  26. Aku jadi penasaran siapa inisiator Sekolah Murid Merdeka. Ternyata kakaknya Najwa Shihab yaa.. kak Najeela.
    MashaAllah~
    Beliau nih falsafah pendidikannya mirip sama Pak Prof. Dr. Arief Rahman yang aku kagumi.

    ReplyDelete
  27. Aku pernah baca di blog April ya kayaknya tentang Sekolah Murid Merdeka ini, tahun lalu. Jadi dia bisa daring dan luring. Kalau luring, sekolahnya di mana mbak? Apa ada di tiap kota?

    ReplyDelete
  28. waktu awal pandemi kemarin memang sering banget lihat iklan SMM ini. saya juga sempat daftar yang gratisnya cuma karena saya bekerja jadinya nggak bisa mengkondisikan anak buat ikut kelas onlinenya padahal bagus sih kalau dilihat sistem belajarnya

    ReplyDelete
  29. Setiap orang pasti punya alasan untuk memilihkan sekolah anaknya ya Mbak. Kalau aku anakku di sekolah alam. Tapi dengan membaca artikel ini aku jadi tahu ada juga sekolah non konvensional selain sekolah alam.

    ReplyDelete
  30. Menqrik banget konsepnyq SMMnyq mbak. Anak generasi Z yg terbiasa teknologi dan melek visual pasti menikmati bangrt belajar midel kaya gini udah gtu kita juga ga bingung krn tetep dpt ijazah ya. Coca cari info sekolah model SMM ada ga ya di semarang

    ReplyDelete
  31. aku tandain dulu ini soalnya kemarin suami sempat berfikir akan menggunakan metode pembelajaran anak seperti ini makanya aku di challange mengembangkan diri supaya bisa support belajar anak nanti

    ReplyDelete
  32. 2 tahun lalu hampir pindahin anak ke SMM tp nggak jadi karena sulit udah year 6. terus mau masukin smp ga jadi krn trus longgar dan anaknya pengen ptm sementara di daerah saya belum ada smpnya. sayang bgt sih.
    ini skrg mau masukin anak bungsu buat paudnya ni

    ReplyDelete
  33. Aku tau Sekolah Murid Merdeka ini waktu pandemi, berati ini satu angkatan sama anaknya mbak April Hamsa ya. Fleksibel banget waktu belajarnya ya

    ReplyDelete
  34. Sekolah konvensional kita terlalu banyak tugas bagi murid. Kadang kasihan ngelihat ponakanku yang ngerjain sepulang sekolah. Kurikulum Sekolah Mereka udah paling cocok dengan Chacha ya, Mba Dian.

    ReplyDelete
  35. Tahun lalu saya sempat tertarik mau menyekolahkan anak di SMM. Anak saya juga udah setuju. Sayangnya berkali-kali menghubungi melalui kontak yang tertera, gak ada respon. Padahal ada banyak yang ingin saya tanyakan. Karena anak saya kan masuk ke jenjang SMA. Jadi perlu tau kalau lulus dari SMM akan seperti apa ijazahnya.

    Baru direspon setelah saya DM via IG. Tapi, anak saya udah terlanjur daftar ke sekolah formal. Kelihatannya memang waktu itu prioritasnya ke SD-SMP. SMA masih jarang kayaknya.

    Meskipun begitu, saya tetap menganggap konsep SMM memang menarik. Hanyak anak saya yang memang belum berjodoh sekolah di sana.

    ReplyDelete
  36. Aku daftar trial mbak, sudah beberapa kali namun selalu ada halangan. Semoga besok ini lancar. Aku minta anakku ikut trial dulu. kalau aku sih udah lihat YT dan tanya2 via WA juga baca beberapa pengalaman teman2 yg anaknya sekul di SMM kayak Mbak Dian ini. Aku pengin anakku di SMM, semoga dia cocok. Soalnya dengan ritme dia yg sekarang aja, dia masih ada waktu luang cukup banyak. Wkwkwk. Maklum anak HS

    ReplyDelete
  37. kalau ortu siap dengan HS kece banget deh apalagi Sekolah Murid Merdeka ini programnya cocok banget dengan HS ya. Aku sendiri sejak pandemi anak belajar di rumah aja seperti anak HS, udah angkat tangan enggak siap hehe

    ReplyDelete
  38. SMM pernah denger sih, baru tahu setelah baca blog post Mba Dee. Kurikulumnya mirip HS ya. Anak jadi bisa lebih eksplore dan belajar lebih mandiri. Ada permainan edukasi juga. Soal pendidikan, memang pilihan orang tua yang disesuaikan kemampuan dan minat anak.

    ReplyDelete
  39. SMM jatuhnya seperti Home Schooling ya mak. Seruu yaa anak2 tidak di tuntut materi pelajaran yg sesuai kurikulum, tugas segambreng, ulangan2.

    Tapii ada kok maak sekolah yg ga da PR banyak kegiatan yg mendukung anak supaya kreatif. (Gusti yeni)

    ReplyDelete
  40. Aku juga sempat tertarik dengan Sekolah Murid Merdeka ini, tapi agak terlambat tahunya, skr anaknya sudah ke SMP.
    Jadi siswa bisa belajar sesuai kompetensinya ya. Yang aku suka sih pemeblajarannya fleksibel gitu

    ReplyDelete
  41. Jujur, aku sedang mengumpulkan informasi tentang SMM, Mak. Alasanku pengen nyekolahin anak di SMM sih salah satunya karena aku kurang sreg dengan sistem zonasi. KK-ku kebetulan masih KK Purworejo sedangkan domisili saat ini di Solo. Bakalan susah dapat sekolah negeri buat anakku yg saat ini kelas 6.

    Trus alasan lainnya, waktu belajarnya fleksibel, kurikulumnya juga kelihatan asyik. Cumaaa, aku masih ragu apa anakku mau.

    ReplyDelete
  42. Ya ampun mbak..seru bener sih.. Anak-anak saya pada pengen nih sekolah di sini, cuma belum klik sama papanya. Hahahah. Karena kan di sini gak ada hubnya, jadi mesti full online. Si adek udah pernah ikut trial classnya, dan cocok..dia senang. Kakaknya ini nih yang belum cobain. Si adek ini kan belum masuk TK ya, rencananya tahun depan aja. Nah pas banget SMM lagi buka pendaftaran untuk program 1 bulan, jadi rencananya mau daftarkan si adek. Hitung-hitung buat ngisi waktu juga, plus trial versi lebih lama hihihi

    ReplyDelete
  43. wah saya baru tahu nih model sekolah SMM. sekarang semakin banyak jenis sekolah yang bisa diterapkan untuk anak.

    ReplyDelete
  44. Setelah pandemi ini, saya sebagai lulusan jurusan pendidikan juga ngerasanya enakan homeschooling sih Mak kayanya. Selain itu, kalau dengan kurikulum seperti yang diterapkan Sekolah Murid Merdekan ini si adek sudah cocok, sebaiknya dipertahankan saja. Siapa tau keberhasilannya nanti bisa menginspirasi masyarakat luas untuk memilih model sekolah dengan kurikulum serupa.

    ReplyDelete

Post a Comment