Liburan ke Surabaya tak melulu harus diisi dengan wisata kuliner, berburu oleh-oleh, atau mengunjungi destinasi populer. Ada cara lain yang tak kalah menarik: menginap di hotel yang memiliki cerita panjang tentang kota ini.
Sejumlah hotel di Surabaya menempati bangunan bersejarah, bahkan ada yang sudah berdiri sejak masa Hindia Belanda. Arsitektur lawas, lorong panjang, jendela besar, hingga detail interiornya membuat pengalaman menginap terasa berbeda.
Bagi kalian yang ingin mencoba weekend getaway sekaligus mengenal sejarah Kota Pahlawan, berikut tujuh hotel yang bisa masuk daftar.
1. Hotel Majapahit, hotel bersejarah sejak 1910
Nama Hotel Majapahit Surabaya hampir selalu muncul ketika membicarakan bangunan bersejarah di Kota Pahlawan.
Hotel di Jalan Tunjungan No. 65 ini berdiri sejak 1910 dengan nama Hotel Oranje. Pada masa itu, hotel menjadi tempat menginap kalangan elite Belanda.
Ketika Jepang menguasai Surabaya, namanya berubah menjadi Hotel Yamato. Bangunan ini kemudian menjadi bagian dari salah satu episode penting sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa yang paling dikenal adalah berkibarnya bendera Merah Putih setelah warna biru pada bendera Belanda dirobek pada September 1945.
Kini, suasananya telah berubah menjadi hotel mewah dengan nuansa heritage. Namun, arsitektur klasiknya masih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Lokasi: Jalan Tunjungan No. 65
Harga mulai: sekitar Rp 1,75 juta per malam*
2. Hotel Horison Arcadia Heritage, menempati bangunan 1913
Bergeser ke kawasan Rajawali, terdapat Hotel Horison Arcadia Heritage yang menempati bangunan bersejarah sejak 1913.
Bangunan ini pada masa Hindia Belanda pernah digunakan sebagai kantor perusahaan besar yang bergerak di bidang perkebunan.
Fasad putih dengan deretan lengkungan pada balkon menjadi ciri khas bangunan. Halaman luas di depannya juga memberikan kesan klasik yang kuat.

Saat ini bangunan tersebut telah berfungsi sebagai hotel dan menjadi salah satu contoh bagaimana bangunan lama dapat diberi kehidupan baru tanpa menghilangkan karakter arsitekturnya.
Lokasi: Jalan Rajawali No. 9-11
Harga mulai: sekitar Rp 290.000 per malam*
3. Hotel Ganefo, menyimpan cerita dari kawasan Pecinan Kapasan

Bagi yang ingin mengeksplorasi sisi lain sejarah Surabaya, Hotel Ganefo di Jalan Kapasan bisa menjadi pilihan.
Hotel ini menempati bangunan kolonial awal abad ke-20 di kawasan Pecinan Kapasan. Arsitekturnya merupakan perpaduan gaya Neo-Klasik dan Art Deco.
Salah satu detail yang menarik adalah keberadaan dua patung singa di bagian depan bangunan.
Baca Juga : 5 Rekomendasi Wisata Gratis Surabaya yang Instagramable
Hotel ini pada awalnya bersifat eksklusif bagi kalangan tertentu. Setelah kebijakan nasionalisasi pada dekade 1950-an, hotel kemudian dibuka untuk umum dan menggunakan nama Ganefo pada era 1960-an.
Namanya dikaitkan dengan gagasan pesta olahraga dunia tandingan yang digagas pada masa Presiden Soekarno.
Lokasi: Jalan Kapasan No. 169-171
Harga mulai: sekitar Rp 100.000 per malam*
4. Hotel Semut, dekat kawasan perdagangan legendaris Surabaya

Hotel Semut berada di Jalan Samudra, kawasan Pabean Cantikan. Hotel ini menempati bangunan lama bergaya klasik dan berada tidak jauh dari kawasan perdagangan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan Kota Surabaya.
Hotel mulai beroperasi pada akhir dekade 1970-an. Lokasinya yang berada di sekitar kawasan perdagangan membuat hotel ini memiliki cerita yang berbeda dibanding hotel heritage di pusat Jalan Tunjungan.
Interiornya pun masih memperlihatkan sejumlah elemen klasik, mulai dari lantai hingga furnitur kayu dan bambu.
Baca Juga : Menginap di Regent’s Park Hotel Malang
Bagi yang ingin merasakan atmosfer Surabaya lama dari kawasan perdagangan dan Pecinan, hotel ini bisa menjadi pilihan.
Lokasi: Jalan Samudra No. 9-15
Harga mulai: sekitar Rp 180.000 per malam*
5. Varna Culture Hotel Tunjungan, bangunan cagar budaya era 1930-an

Jangan terkecoh dengan tahun berdirinya hotel.
Varna Culture Hotel Tunjungan memang baru beroperasi pada 2014. Namun, bangunan yang ditempatinya merupakan peninggalan cagar budaya yang telah berdiri sejak sekitar 1930-an.
Hotel di Jalan Tunjungan No. 51 ini mempertahankan keaslian bangunan lama dan mengubahnya menjadi penginapan dengan konsep interior bernuansa budaya.
Inilah yang membuat pengalaman menginap di Varna terasa berbeda. Pengunjung tidak hanya mendapatkan fasilitas hotel, tetapi juga kesempatan untuk tinggal di dalam bangunan yang menjadi bagian dari sejarah kawasan Tunjungan.
Lokasi: Jalan Tunjungan No. 51
Harga mulai: sekitar Rp 300.000 per malam*
6. Grand Inna Tunjungan, jejak hotel sejak 1868

Kalau berbicara tentang usia bangunan hotel di Surabaya, Grand Inna Tunjungan memiliki cerita yang panjang.
Jejak sejarah bangunan di lokasi ini disebut telah dimulai sejak 1868, ketika berdiri Hotel Broekman. Hotel tersebut kemudian mengalami beberapa kali perubahan nama hingga akhirnya dikenal sebagai Grand Inna Tunjungan.
Lokasinya berada di pusat kota, tepat di kawasan Jalan Gubernur Suryo, sehingga kita bisa sekaligus menjelajahi berbagai destinasi di sekitar pusat Surabaya.
Ini juga menjadi pertimbangan para travel blogger, termasuk Travel Blogger Medan.
Dari hotel ini, kawasan Tunjungan dan pusat kota dapat menjadi bagian dari perjalanan heritage walk yang lebih luas.
Lokasi: Jalan Gubernur Suryo No. 1-3
Harga mulai: sekitar Rp 600.000 per malam*
7. Bumi Surabaya City Resort, bagian dari sejarah hotel modern Surabaya

Tidak semuanya harus berasal dari zaman kolonial.
Bumi Surabaya City Resort menawarkan cerita dari fase perkembangan Surabaya yang lebih modern. Hotel ini diresmikan pada 1979 oleh Menteri Perhubungan dan kemudian berkembang menjadi salah satu hotel besar di pusat kota.
Lokasinya strategis, berada dekat kawasan bisnis dan pusat hiburan. Kompleks hotelnya juga cukup luas pas untuk outdoor activity, dengan fasilitas yang membuatnya lebih cocok untuk wisatawan yang ingin memadukan nuansa klasik dengan kenyamanan hotel modern.
Baca Juga : Secangkir Ketenangan di Jambul Coffee Batu: Menikmati Kopi dengan Pemandangan Alam yang Menyejukkan
Interiornya menampilkan kesan elegan, termasuk area lobi dengan lantai marmer, furniture klasik, dan sebuah grand piano yang memberikan atmosfer mewah.
Lokasi: Jalan Jenderal Basuki Rachmat No. 106-128
Harga mulai: sekitar Rp 780.000 per malam*
Bukan sekadar tempat tidur untuk akhir pekan
Ketujuh hotel tersebut menunjukkan bahwa sejarah Surabaya tersebar di berbagai sudut kota.
Ada hotel yang menjadi saksi pergolakan menjelang kemerdekaan, ada yang lahir dari kawasan perdagangan, ada pula bangunan lama yang kini disulap menjadi akomodasi dengan konsep modern.
Karena itu, staycation di hotel bersejarah bisa menjadi pengalaman yang lebih dari sekadar menginap.
Kita bisa memulai pagi dengan menikmati arsitektur lama, berjalan menyusuri kawasan sekitar hotel, mencicipi kuliner khas Surabaya, lalu kembali ke bangunan yang sejak puluhan hingga lebih dari seratus tahun lalu telah menjadi bagian dari wajah kota.
Jadi, kalau akhir pekan ini ingin merasakan Surabaya dengan cara yang berbeda, mungkin sudah waktunya memilih hotel bukan hanya berdasarkan harga atau jumlah bintang, tetapi berdasarkan cerita yang tersimpan di balik pintunya.
Catatan: harga merupakan kisaran harga yang tercantum pada materi dan dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung kebijakan hotel, musim, pajak, serta platform pemesanan.

