Di Balik Nilai Bagus Murid, Ada Mata SePeLe yang Nyaris Saya Abaikan

Di Balik Nilai Bagus Murid, Ada Mata SePeLe yang Nyaris Saya Abaikan

Share This Post

“Seorang guru tidak hanya mengajar dengan suara, tetapi juga dengan mata yang tak pernah berhenti bekerja.”

Selama lebih dari enam belas tahun menjadi guru bimbingan belajar, saya belajar satu hal: keberhasilan seorang murid tidak pernah lahir dari satu atau dua jam belajar saja. Ada proses panjang yang kami jalani bersama. Menyusun materi, membuat latihan soal, mengoreksi jawaban, memberikan motivasi, hingga menemani mereka menghadapi rasa takut menjelang ujian.

Salah satu momen yang selalu saya nantikan setiap tahun adalah masa-masa menjelang pengumuman hasil seleksi masuk perguruan tinggi. Saat itulah semangat belajar para murid sedang berada di puncaknya. Kelas tambahan hampir setiap hari, grup WhatsApp aktif hingga malam, dan pertanyaan demi pertanyaan terus berdatangan.

Saya menikmati semua proses itu.

Melihat seorang murid yang awalnya tidak percaya diri, lalu perlahan mampu memahami materi hingga akhirnya berhasil meraih kampus impiannya, selalu menjadi kebahagiaan yang sulit digambarkan.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang hampir tidak pernah saya perhatikan: kesehatan mata saya sendiri.

Mata yang Terus Bekerja Sejak Pagi hingga Malam

Menjadi guru bimbel hari ini sangat berbeda dibanding belasan tahun lalu.

Kalau dulu saya hanya membawa spidol dan buku latihan, sekarang hampir semua proses mengajar melibatkan layar digital. Saya menyiapkan materi di laptop, membuat presentasi, mengirim latihan melalui WhatsApp, menjawab pertanyaan murid secara daring, hingga mengevaluasi hasil belajar menggunakan berbagai aplikasi.

Belum lagi saat mengajar di kelas. Mata saya harus terus berpindah dari layar presentasi ke buku siswa, kemudian mengamati ekspresi murid satu per satu. Dari sorot mata mereka, saya sering bisa mengetahui siapa yang mulai memahami materi dan siapa yang masih kebingungan.

Saya tidak pernah menghitung berapa jam mata saya bekerja setiap hari.

Yang saya tahu, ketika musim persiapan ujian tiba, hampir tidak ada waktu bagi mata untuk benar-benar beristirahat.

Ketika Mata SePeLe Datang di Momen yang Paling Penting

Suatu sore saya sedang mengajar kelas intensif yang sudah lama kami persiapkan. Tinggal beberapa hari lagi para murid akan menghadapi ujian penting.

Saya ingin memastikan mereka memahami materi terakhir.

Namun, di tengah penjelasan, mata mulai terasa tidak nyaman.

Awalnya hanya sepet.

Saya mengira karena kurang tidur.

Tidak lama kemudian muncul rasa perih. Saya mulai lebih sering berkedip. Tulisan di layar proyektor terasa kurang nyaman dipandang. Saat harus membaca tulisan kecil pada lembar soal, mata terasa cepat lelah.

Padahal energi saya sebenarnya masih cukup.

Yang membuat konsentrasi terganggu justru mata.

Sebagai guru, kondisi seperti ini tentu tidak ideal. Saya ingin tetap fokus menjelaskan materi, memperhatikan pertanyaan murid, sekaligus memastikan tidak ada konsep yang terlewat.

Hari itu saya baru benar-benar menyadari bahwa mata SePeLe jangan disepelein.

Guru Juga Rentan Mengalami Gejala Mata Kering

Pengalaman tersebut membuat saya mencari tahu penyebabnya.

Ternyata, gejala mata yang terasa sepet, perih, dan lelah bisa menjadi tanda gejala mata kering atau dry eye disease.

Kondisi ini semakin sering ditemukan pada orang yang menghabiskan waktu lama di depan layar komputer maupun ponsel. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama International Telecommunication Union (ITU) bahkan menyoroti meningkatnya penggunaan perangkat digital yang berkontribusi terhadap masalah kesehatan mata seperti digital eye strain dan dry eye disease, sehingga mendorong penyusunan standar global untuk penggunaan perangkat digital yang lebih aman.

Saya langsung merasa, “Ini saya sekali.”

Sebagai guru, pekerjaan saya tidak berhenti ketika kelas selesai. Masih ada materi yang harus dipersiapkan, latihan yang harus diperiksa, serta komunikasi dengan murid dan orang tua yang sebagian besar dilakukan melalui layar.

Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2025 juga menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara durasi screen time yang panjang dan meningkatnya risiko dry eye disease, terutama pada kelompok dengan aktivitas digital tinggi.

Bahkan sebuah penelitian di Indonesia melaporkan bahwa prevalensi dry eye syndrome pada kelompok usia produktif 17–35 tahun dapat mencapai sekitar 27,5%, dan semakin lama screen time, semakin tinggi risiko terjadinya mata kering.

Data tersebut membuat saya sadar bahwa apa yang saya alami ternyata bukan hal yang sepele.

Menemukan INSTO DRY EYES

Sejak saat itu saya mulai lebih peduli terhadap kesehatan mata.

Saya mencari informasi mengenai cara membantu meredakan gejala mata kering yang saya rasakan. Dari situlah saya mengenal INSTO DRY EYES.

Kini saya selalu menyediakan INSTO DRY EYES di dalam tas yang saya bawa mengajar. Ketika mata mulai terasa sepet, perih, atau lelah setelah berjam-jam mengajar dan menatap layar, saya tetesin Insto Dry Eyes untuk membantu meredakan gejala mata kering sehingga mata terasa lebih nyaman.

Bagi saya, kenyamanan mata sangat penting. Dengan mata yang lebih nyaman, saya bisa kembali fokus menjelaskan materi, membaca tulisan kecil pada lembar soal, dan memberikan perhatian penuh kepada murid-murid saya.

Selain Menggunakan INSTO DRY EYES, Saya Mengubah Kebiasaan

Pengalaman itu juga membuat saya memperbaiki beberapa kebiasaan sehari-hari.

Sekarang saya berusaha menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit melihat objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik agar mata mendapat waktu beristirahat.

Saya juga lebih sering berkedip ketika bekerja di depan laptop, mencukupi kebutuhan air minum, mengurangi penggunaan gawai yang tidak perlu, serta berusaha tidur lebih cukup.

Langkah-langkah sederhana ini membantu mengurangi ketegangan mata selama menjalani aktivitas mengajar.

Karena Guru Juga Perlu Menjaga Matanya

Selama bertahun-tahun saya selalu mengingatkan murid untuk menjaga kesehatan, tidur cukup, dan tidak belajar hingga memforsir diri.

Ironisnya, saya justru lupa menerapkan hal yang sama pada diri sendiri, terutama dalam menjaga kesehatan mata.

Padahal mata adalah salah satu “alat kerja” terpenting seorang guru. Dari mata, saya membaca semangat murid, mengamati perkembangan mereka, hingga menyaksikan kebahagiaan ketika impian mereka akhirnya terwujud.

Kini saya percaya bahwa menjaga kesehatan mata adalah bagian dari profesionalisme seorang pendidik.

Karena di balik setiap nilai bagus, setiap kelulusan, dan setiap mimpi yang berhasil diraih murid, ada guru yang setiap hari bekerja dengan mata yang tak pernah berhenti memperhatikan mereka.

Maka, jangan lagi menganggap remeh mata yang mulai sepet, perih, atau lelah. Saya ingin terus mengajar dengan penuh semangat, dan #InstoDryEyes membantu saya meredakan gejala mata kering agar tetap nyaman menjalani aktivitas. Semoga semakin banyak guru, pekerja, maupun siapa saja yang peduli pada kesehatan mata, karena #BebasMataKering dimulai dari kesadaran bahwa #MataSePeLeJanganSepelein.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore