Tahun ajaran baru kali ini, Aluna menyusul kakaknya untuk sekolah di Sekolah Murid Merdeka. Lagi-lagi keputusan ini jadi pertanyaan banyak orang-orang yang ada sekitar. Buat apa sekolah online? Toh, tahun ajaran baru ini anak-anak sudah boleh sekolah tatap muka. Mengapa nggak kembali di sekolah konvensional saja?
Hmm, daripada mengulang-ulang jawaban, baiknya ditulis disini saja. Jadi kalau ada yang nanya alasan mengapa anak-anak sekolah di Sekolah Murid Merdeka, saya tinggal share link artikel ini. Kan lumayan, nambah page view sekalian. Hehehe.
Okey, hari ini saya mau cerita tentang anak-anak yang sekolah di Sekolah Murid Merdeka, ya!
Mengapa Memilih Sekolah Murid Merdeka?
Perkenalan saya dengan Sekolah Murid Merdeka (SMM) dimulai setahun lalu. Saat itu, Chacha ingin pindah sekolah. Dia bosan, selama dua tahun sekolah online tapi cuma baca share materi di grup WhatsApp dan mengerjakan tugas saja. Kurang seru katanya. Dia bahkan minta homeschooling saja.
Di tengah kesibukan mempersiapkan homeschooling Chacha, saya akhirnya tahu tentang SMM. Makin tertarik melihat siapa yang menginisiasi sekolah ini. Tanpa banyak pikir panjang, saya pun mantap memidahkan Chacha dari sekolah lamanya ke SMM.
Lalu, apa yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih SMM ini? Ada dua yang jadi pertimbangan saya dalam memilih SMM ini, yaitu kurikulum dan sistem pembelajaran.
Kurikulum SMM
Dasar kurikulum yang digunakan oleh SMM adalah Kurikulum Nasional atau Kurikulum 2013, yang kemudian dikembangkan oleh tim ahli SMM menjadi kurikulum berbasis kompetensi masa depan siswa.
SMM menggunakan kurikulum yang berfokus pada proses pembelajaran 9 kompetensi di masa depan, yaitu : berkomitmen, mandiri, reflektif, cerdas, inovatif, berdaya, berprinsip, komunikatif, dan bekerjasama.
Dimana sembilan kompetensi tersebut dilaksanakan dalam 6 program dan menggunakan cara 5M. Yuk, lebih jelasnya bisa dilihat dalam chart berikut.
![]() |
| Kurikulum SMM| booklet SMM |
Sistem pembelajaran SMM
SMM menggunakan sistem pembelajaran blended learning. SMM adalah pelopor sekolah dengan sistem blended learning. Pembelajaran di SMM dilakukan secara daring dan luring.
Dengan sistem pembelajaran seperti ini, anak bisa belajar secara fleksibel. Juga memiliki kesiapan dalam menyongsong pendidikan di masa depan.
Pembelajaran di SMM
Pembelajaran di SMM ini sangat variatif, sehingga anak tidak mudah bosan. Ada banyak tipe aktivitas pembelajaran di SMM ini.
Tipe aktivitas pembelajaran di SMM terdiri dari :
1. Live teaching
2. Belajar mandiri
3. Belajar luring
4. Laporan hasil belajar
Penerapan pembelajaran di SMM ini adalah belajar menyenangkan dan pembelajaran bermakna.
Belajar menyenangkan artinya anak belajar tanpa ketakutan dan bosan. Ada banyak variasi praktik pembelajaran, mulai dari permainan interaktif, dongeng, dan praktikum mandiri menggunakan toolkit yang sudah disiapkan oleh SMM.
SMM juga melakukan pembelajaran bermakna, artinya pembelajaran yang dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Jadi anak lebih mudah mengaplikasikan apa yang sudah dipelajari.
Anak-anak belajar online melalui LMS (Learning Management System) SMM. LMS ini bisa diakses melalui browser ataupun aplikasi yang bisa diunduh di iOS dan PlayStore.
Di LMS ini anak akan memiliki akun belajar. Semua aktivitas pembelajaran secara online dilakukan melalui LMS ini. Mulai dari live teaching, mengerjakan tugas-tugas mandiri, hingga laporan hasil belajar.
Sedangkan belajar luring dilakukan di Hub SMM yang tersebar di seluruh Indonesia. Kebetulan, kalau di Surabaya, ada di daerah Ngagel Jaya Tengah.
![]() |
| Saat belajar luring |
Kelas luring ini tersedia dengan beragam pilihan. Luring rutin dilakukan seminggu 3x, ada juga yang sifatnya optional. Bisa ikut sesuai kebutuhan. Selama ini Chacha ikut luring seminggu sekali atau kadang juga dua minggu sekali.
Ijazah SMM
Ada juga yang bertanya, SMM ini statusnya apa? Sekolah formal atau PKBM? Apakah ijazah SMM bisa digunakan untuk jenjang pendidikan selanjutnya, misalnya apakah anak SD SMM bisa sekolah di SMP negeri?
SMM ini statusnya adalah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, PKBM adalah pendidikan non formal yang kedudukannya sama seperti Sekolah, yang merupakan pendidikan formal.
Ijazah SMM diakui secara nasional dan bisa digunakan untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Murid PAUD SMM akan mendapatkan raport, e-portofolio, dan sertifikat ketika sudah menyelesaikan masa pembelajarannya.
Sedangkan untuk jenjang SD hingga SMA, maka akan mendapatkan ijazah, raport, e-portofolio, dan sertifikat. Jadi, jika suatu saat Chacha ingin kembali ke sekolah konvensional, maka nggak ada masalah.
Keunggulan Sekolah di SMM
Lalu, apa saja sih keunggulan sekolah di SMM ini? Mengapa akhirnya dua anak saya belajar di SMM?
Sesuai kompetensi masa depan
“Didiklah anakmu sesuai zamannya”, teman-teman pasti sering mendengar petuah ini. Ini juga yang mendasarkan saya memilih SMM.
![]() |
| Saat live teaching bersama guru |
Kedua anak saya ini adalah generasi Z, generasi yang sangat akrab dengan teknologi. SMM adalah sekolah berbasis teknologi. Pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan para generasi Z. Nggak hanya belajar lewat LMS saja, di SMM anak-anak belajar melalui video pembelajaran, kuis interaktif, hingga game.
Nggak hanya itu, SMM juga membuat anak bisa menguasai kompetensi masa depan yang tentu sangat berguna anak.
Dan tentu SMM ini sesuai banget sama cita-cita pendidikan Indonesia saat ini, Merdeka Belajar. Di SMM nggak hanya mengajak anak untuk Merdeka Belajar saja, tetapi juga Merdeka Berkarya dan Merdeka Berkolaborasi.
Proses pembelajaran yang fleksibel
Di SMM anak bisa belajar secara fleksibel. Bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Pilihan kelas online ada di pagi dan sore hari. Kalau tidak ikut kelas online juga nggak masalah. Anak juga bisa belajar mandiri dengan mendengarkan rekaman yang tersedia di LMS.
Biaya terjangkau
Bisa dibilang, SMM ini biayanya cukup terjangkau. Dengan kualitas sebagus itu, sekolah di SMM cukup membayar sekitar 5 jutaan selama setahun. Pembayaran dengan sistem cicilan pun dibolehkan. Kebetulan saya memilih membayar secara cash uang sekolah selama setahun.
Toolkit yang menarik
SMM menyediakan toolkit yang menarik untuk mendukung proses pembelajaran. Ada toolkit basic dan add on. Toolkit basic sudah include dengan SPP yang dibayarkan. Sedangkan yang add on sifatnya pilihan, boleh beli boleh tidak. Toolkit ini setiap triwulan sekali. Sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan.
![]() |
| Contoh isi playkit |
Sesuai dengan kurikulum keluarga
Bisa dibilang alasan paling kuat mengapa semakin mantap di SMM adalah sesuai dengan kurikulum keluarga kami. Selama ini kami menerapkan home education. Sebagai orang tua, tetap kami yang memiliki tanggung jawab utama untuk pendidikan anak-anak.
Di SMM, orang tua wajib terlibat dalam proses pendidikan anak-anak. Orang tua menjadi fasilitator pembelajaran anak-anak di rumah.
Kurikulum yang ada di SMM bisa sejalan dengan kurikulum home education kami. Dimana anak bisa mengembangkan semua aspek fitrah yang dimilikinya. Bisa bebas belajar dan mengembangkan minat dan bakatnya.
Saat anak-anak sekolah konvensional, kami kesulitan menerapkan kurikulum keluarga. Anak-anak belajar dengan waktu yang sangat lama, dan banyak tugas-tugas yang harus dikerjakan. Anak tidak punya waktu dan tenaga untuk mengembangkan minat dan bakatnya.
Penutup
Selama setahun ini tidak ada hambatan yang berarti saat Chacha sekolah di SMM. Dia menikmati setiap proses pembelajaran. Kompetensinya juga meningkat.
Dia tetap memiliki kemampuan bersosialisasi meskipun banyak melakukan interaksi secara online dengan guru dan teman-temannya.
Oke, sekian cerita saya tentang anak yang bersekolah di Sekolah Murid Merdeka. Semoga tulisan ini bisa menjawab rasa penasaran teman-teman tentang pilihan pendidikan keluarga kami.
Kalau masih ada yang mau ditanyakan, boleh lho ditulis di kolom komentar.
Terima kasih.













Leave a Reply