Mengintip Pameran Karya SMM Gubeng, Ruang Belajar, Berkarya, dan Bertumbuh Bersama

Pameran Karya SMM Gubeng

Kamis, 24 September 2026 , saya menghadiri acara Pameran Karya SMM (Sekolah Murid Merdeka) Gubeng. Pameran karya kali ini mengambil tema Bumi Sriwijaya. 

Di sini orang tua tidak hanya bisa melihat hasil karya anak-anaknya selama triwulan satu, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai acara yang digelar. 

Pameran Karya SMM

Pameran karya adalah acara yang rutin dilakukan setiap triwulan. Pameran karya menjadi puncak dari perayaan merdeka belajar di Sekolah Murid Merdeka. 

Pameran karya ini menjadi ruang bagi murid untuk berbagi proses dari hasil belajar murid. Bagi orang tua, acara ini menjadi bentuk apresiasi dan kesempatan bagi orang tua untuk melihat dan terlibat dalam perjalanan belajar anak. 

Saat datang ke sekolah, saya langsung mendapatkan booklet acara. Di dalamnya selain berisi tentang susunan acara, juga ada alur kegiatan, parent activity dan apresiasi untuk karya anak. 

Beberapa acara yang digelar pada pameran kali ini adalah :

  • Presentasi karya terpilih
  • Gallery area
  • Pojok SMM
  • Parents activity

Sebelum mulai, acara dibuka dengan sambutan kepala sekolah. Selain itu juga memperkenalkan beberapa budaya khas Palembang, kota yang dipilih sebagai tema pameran kali ini. 

Pantun khas Palembang menjadi penutup sambutan. Dari lapangan, semua wali murid dan kawan murid menuju kelas masing-masing untuk melakukan presentasi karya terpilih. 

Presentasi Karya Terpilih

Jika pada pameran sebelumnya, kawan murid mempresentasikan karya sumatifnya, kali ini karya yang ditampilkan lebih beragam. Tak hanya karya sumatif, tapi juga karya-karya lain hasil proses pembelajaran selama triwulan satu. 

Ada yang presentasi tugas peta cita-cita, buku favorit, menu makanan sehat, hingga daily activity. 

Kebetulan, anak saya memilih karya menu makanan sehat. Dia mempresentasikan minuman berkhasiat dari bunga telang. 

Ada yang bikin haru. Kali ini, si bungsu mau mengambil tantangan baru. Jika biasanya dia presentasi menggunakan bahasa Indonesia, kali ini berani mempresentasikan karyanya dalam bahasa Inggris. 

Baca Juga : Mengenal Sekolah Blended Learning, Sekolahnya Anak Zaman Now! 

Walau masih terlihat grogi, tapi secara pengucapan bahasa Inggrisnya sudah benar. Jujur, saya sangat bangga. Semoga pameran karya berikutnya, dia bisa presentasi pakai bahasa Inggris dengan lebih percaya diri. 

Selain itu, pada pameran karya kali ini, orang tua juga diajak melihat presentasi dari kelas lain. Kebetulan, rute saya selanjutnya adalah melihat presentasi kelas SMP dan SMA. 

Di kelas SMP, ada yang mempresentasikan bagaimana sistem ekskresi bekerja. Presentasi yang memukau, karena dibarengi dengan alat peraga yang kreatif. 

Ada juga yang presentasi untuk pelajaran bahasa Inggris. Membuat daily vlog video sambil menerangkan penggunaan simple present tense dalam kehidupan sehari-hari. 

Presentasi terakhir yang paling memukau. Dari kelas SMA, bercerita tentang sejarah tanah Palestina. Alat peraga yang dibuat sangat bagus. 

Presenternya memiliki kemampuan storytelling yang mumpuni. Saya jadi ikut terhanyut. Tak terasa air mata menetes mendengar cerita perjuangan kemerdekaan Palestina. 

Gallery Area

Setelah sesi presentasi, rute selanjutnya adalah Gallery Area. Di sini saya berkeliling untuk melihat berbagai karya sumatif kawan murid jenjang PAUD hingga SMA. 

Beberapa karya yang ditampilkan di galeri antara lain majalah kesehatan, alat peraga pembelajaran IPA, academic word, my dreaming journey, kliping self development, lukisan, dan masih banyak lagi. 

Baca Juga : Cerita Anak Bersekolah di Sekolah Murid Merdeka

Khusus kelas si bungsu, karya sumatifnya adalah majalah kesehatan. Di proyek sumatif ini, kawan murid harus membuat majalah dengan manual. Ditulis tangan, bukan menggunakan karya digital. 

Mungkin ini juga menjadi salah satu cara untuk mengenalkan bagaimana hidup analog bagi generasi alpha yang sangat akrab dengan teknologi. Ini menjadi cara agar generasi alpha bisa tetap melakukan gaya hidup mindful di tengah dunia yang serba digital. 

Ada Dua karya kawan murid yang sudah masuk fase earn. Di mana karyanya layak dijual. Dua booth menjual karya sumatif, berupa majalah kesehatan dan stiker. Harga majalahnya Rp. 15.000 , sedangkan stiker harganya Rp. 5.000 untuk tiga stiker. 

Pojok SMM

Setelah puas menjelajahi area galeri karya, saya berlanjut ke Pojok SMM. Di sini saya melihat berbagai aktivitas ekskul. 

Baca Juga : Pengalaman Anak Ikut Ekstrakurikuler Menulis di Sekolah Murid Merdeka

Beberapa ekskul yang ada di sekolah, memamerkan hasil kegiatan pada triwulan satu. Ada ekskul seni rupa, koki cilik, robotik, sains, hingga living english. 

Parents Activity

Di penghujung acara, orang tua murid diajak melakukan beberapa misi dalam parents activity. Mulai dari menjawab pertanyaan yang ada di booklet, mencari nama anak dalam huruf yang diajak, mengisi teka-teki silang dan menuliskan kesan dan pesan. 

Ini seru, lho. Apalagi yang bagian mengisi teka-teki silang. Saya bahkan kesulitan menjawab dua pertanyaan, hingga harus buka grup wali murid, untuk mencari jawaban, hahaha. 

Penutup

Ini adalah tahun kelima si bungsu sekolah di SMM. Sudah beberapa pameran karya yang saya datangi. Jujur, ini yang paling menarik. Mungkin karena ada beberapa acara baru untuk penyegaran. 

Selain itu, pameran karya kali ini juga lebih banyak melibatkan orang tua murid. Kegiatan Parents Activity, membuat orang tua murid menjadi terlibat dalam pameran karya. 

Semoga pameran karya selanjutnya semakin seru dan menyenangkan. Menjadi ruang bagi kawan murid itu belajar, berkarya, dan bertumbuh bersama. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *