Tas Siaga Versi Ibu: Bukan Sekadar Baju Ganti dan Air Minum


“Kalau harus pergi sekarang, apa saja yang akan saya bawa?”
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala saya ketika kembali membaca berita tentang aktivitas Gunung Semeru.
Saya tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur. Semeru memang tidak berada di dekat rumah saya. Tetapi sebagai ibu, saya belajar bahwa urusan bencana tidak cukup hanya dilihat dari jarak.
Saya pernah mengalaminya.
Tahun 2021, ketika Gunung Merapi mengalami erupsi, rumah saya di Sidoarjo juga terkena hujan abu.
Saat itu saya sempat berpikir, bagaimana mungkin?
Yogyakarta dan Sidoarjo cukup jauh. Namun abu vulkanik bisa sampai ke rumah kami.
Pengalaman itu membuat saya punya cara pandang yang berbeda terhadap bencana gunung api.
Saya tidak ingin panik setiap kali mendengar gunung berpotensi erupsi. Tetapi saya juga tidak ingin terlalu santai hanya karena merasa tinggal jauh dari sumber bencana.
Termasuk ketika memikirkan Semeru.
Saya kemudian mulai bertanya kepada diri sendiri.
Kalau suatu saat keluarga harus segera meninggalkan rumah, apakah saya sudah siap?
Bukan hanya secara mental.
Tetapi juga secara praktis.
Di situlah saya mulai memahami pentingnya tas siaga bencana.
Tas siaga bukan tas liburan
Sebelumnya, kalau mendengar istilah tas siaga, yang terbayang di kepala saya mungkin hanya tas berisi pakaian dan air minum.
Ternyata tidak sesederhana itu.
BNPB menjelaskan bahwa Tas Siaga Bencana atau TSB dipersiapkan keluarga untuk menghadapi bencana atau kondisi darurat. Tujuannya antara lain membantu keluarga bertahan ketika bantuan belum datang dan memudahkan proses evakuasi menuju tempat aman.
Artinya, tas ini bukan koper untuk mengungsi.
Bukan pula tas liburan yang kita isi dengan barang sebanyak mungkin, khas Lifestyle Ibu.
Tas siaga justru harus ringkas, mudah dibawa, dan berisi barang yang benar-benar dibutuhkan.
Karena ketika keadaan darurat terjadi, kita mungkin tidak punya waktu untuk berdiri lama di depan lemari sambil berpikir,
“Baju yang ini dibawa atau yang itu?”
Saya membayangkan situasi yang jauh lebih sederhana.
Ada informasi darurat.
Keluarga harus bersiap.
Saya mengambil tas.
Dan kami pergi.
Sesederhana itu.
Apa isi tas siaga versi ibu?
Setelah memikirkan kebutuhan keluarga, saya menyadari bahwa isi tas siaga setiap keluarga bisa berbeda.
Kebutuhan keluarga dengan bayi tentu tidak sama dengan keluarga yang anaknya sudah remaja.
Keluarga yang memiliki lansia juga membutuhkan perlengkapan berbeda.
Karena itu, daftar tas siaga sebaiknya tidak sekadar menyalin daftar dari internet.
Kita perlu menyesuaikannya dengan keluarga sendiri. Begitu juga yang dikatakan oleh salah satu sobat drakor saya, Alienda Sophia.
Tetapi sebagai titik awal, BNPB merekomendasikan beberapa kebutuhan penting seperti pakaian untuk sekitar tiga hari, makanan tahan lama, air minum, P3K dan obat pribadi, alat komunikasi, perlengkapan mandi, masker, peluit, uang tunai, serta alat penerangan. Dokumen penting juga perlu disiapkan.
Saya kemudian membayangkan isi tas saya.
1. Pakaian bukan cuma baju ganti
Tiga hari mungkin terdengar lama.
Tetapi ketika kita harus berada di tempat pengungsian, pakaian bersih menjadi kebutuhan yang sangat sederhana sekaligus penting.
Saya akan memasukkan pakaian dalam, kaus, celana panjang, jaket atau pakaian hangat, dan perlengkapan lain sesuai kondisi keluarga.
Untuk anak, mungkin saya akan menambahkan satu set pakaian ekstra.
Karena ibu tahu satu hal:
anak-anak bisa membuat pakaian kotor dalam waktu yang jauh lebih cepat daripada orang dewasa.
2. Makanan yang benar-benar bisa dimakan
Saya tidak perlu memasukkan makanan mewah.
Yang saya butuhkan adalah makanan yang tahan lama, praktis, dan disukai keluarga.
Biskuit, makanan siap santap, atau makanan lain yang tidak membutuhkan proses memasak rumit bisa menjadi pilihan.
Kalau ada anak kecil, kebutuhan makanannya harus dipikirkan secara khusus.
Sebab dalam situasi darurat, anak tetap anak.
Ia tetap lapar.
Tetap haus.
Dan tetap bisa rewel ketika makanan yang tersedia tidak sesuai dengan kebiasaannya.
3. Air minum
Ini mungkin terdengar paling sederhana.
Tetapi justru karena sederhana, jangan sampai dilupakan.
Air minum harus menjadi salah satu prioritas.
BNPB memasukkan air minum sebagai kebutuhan dasar dalam Tas Siaga Bencana.
Tentu jumlah dan cara membawanya perlu disesuaikan dengan kondisi keluarga dan kemampuan membawa tas.
Karena tas siaga juga harus tetap memungkinkan untuk dibawa ketika kita bergerak cepat.
4. Obat pribadi jangan sampai tertinggal
Ini salah satu bagian yang menurut saya paling penting.
Kalau ada anggota keluarga yang rutin membutuhkan obat tertentu, jangan hanya mengandalkan pikiran, “Nanti bisa beli.”
Dalam kondisi bencana, belum tentu apotek mudah diakses.
Karena itu, obat pribadi dan perlengkapan P3K perlu masuk dalam tas.
Saya juga akan mengecek tanggal kadaluarsa secara berkala.
Karena menyimpan obat saja tidak cukup.
Kita harus memastikan obat itu masih layak digunakan ketika benar-benar dibutuhkan.
5. Senter dan power bank
Bayangkan listrik mati.
Ponsel tinggal beberapa persen.
Di saat yang sama, kita membutuhkan informasi.
Senter menjadi penting.
Power bank juga penting.
Ponsel bukan sekadar alat untuk membuka media sosial. Dalam kondisi darurat, ponsel bisa menjadi alat komunikasi sekaligus sumber informasi.
BNPB juga memasukkan radio atau ponsel beserta baterai, charger, atau power bank dalam perlengkapan tas siaga.
Dan sebagai ibu, saya akan memastikan power bank itu sudah terisi, bukan hanya tersimpan cantik di dalam tas.
6. Masker dan perlindungan diri
Pengalaman hujan abu Merapi membuat bagian ini terasa semakin penting bagi saya.
Masker mungkin terlihat seperti benda kecil.
Tetapi ketika udara dipenuhi debu atau abu, perlindungan saluran pernapasan menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan.
BNPB juga memasukkan masker sebagai salah satu perlengkapan Tas Siaga Bencana.
Saya akan menyimpannya dalam kemasan yang mudah diambil.
Bukan ditaruh di bagian paling bawah tas.

Ada satu isi tas yang sering terlupakan: informasi
Ini yang menurut saya paling penting.
Tas siaga bukan hanya berisi barang.
Ia juga perlu membawa informasi penting keluarga.
Saya ingin menyiapkan daftar nomor telepon.
Nomor ayah.
Nomor ibu.
Nomor keluarga terdekat.
Kontak sekolah anak.
Nomor darurat.
Dan jika memungkinkan, salinan dokumen penting disimpan dengan aman dalam bentuk fisik maupun digital.
Sebab dalam keadaan darurat, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan ponsel.
Baterai bisa habis.
Sinyal bisa bermasalah.
Ponsel bisa tertinggal.
Karena itu, memiliki catatan penting sebagai cadangan bisa sangat membantu.
Tas siaga harus bisa ditemukan dalam keadaan panik
Ada satu kesalahan yang mungkin saja saya lakukan.
Menyiapkan tas siaga dengan lengkap, tetapi menyimpannya di tempat yang sulit dijangkau.
Percuma.
Kalau tas ada di gudang paling belakang, tertutup kardus, atau malah terkunci di lemari, bagaimana saya bisa mengambilnya dengan cepat?
Dalam panduan BNPB yang terbaru, tas siaga dianjurkan berada di tempat yang mudah dijangkau, dekat pintu keluar, mudah terlihat, dan siap diambil dengan cepat. Tas juga perlu diperiksa secara berkala.
Maka saya perlu menentukan satu tempat khusus.
Semua anggota keluarga harus tahu.
“Kalau keadaan darurat, tasnya ada di sini.”
Sesederhana itu.
Jangan membuat tas siaga lalu melupakannya
Anak tumbuh.
Kebutuhan keluarga berubah.
Obat kedaluwarsa.
Makanan bisa melewati masa simpannya.
Baterai bisa habis.
Pakaian anak bisa sudah kekecilan.
Karena itu, tas siaga perlu diperiksa secara berkala.
Bukan hanya ketika mendengar kabar gunung akan erupsi.
BNPB bahkan menyarankan pemeriksaan tas siaga secara berkala, termasuk memastikan isinya masih sesuai kebutuhan keluarga.
Saya membayangkan menjadikan kegiatan ini sebagai rutinitas keluarga.
Misalnya setiap enam bulan.
Buka tas.
Cek isinya.
Ganti yang sudah tidak layak.
Tambahkan kebutuhan baru.
Sekaligus mengajak anak mengenali barang-barang di dalamnya.
Tas siaga bukan tanda bahwa saya takut
Mungkin ada yang berpikir, bukankah menyiapkan tas siaga justru membuat kita semakin cemas?
Bagi saya tidak.
Setelah mengalami hujan abu Merapi di Sidoarjo pada 2021, saya justru merasa persiapan membuat saya lebih tenang.
Karena saya tahu, kalau sesuatu terjadi, setidaknya ada beberapa hal yang sudah saya siapkan.
Saya tidak perlu berlari mencari dokumen.
Tidak perlu mencari senter dalam keadaan gelap.
Tidak perlu mengingat-ingat obat apa yang harus dibawa.
Tidak perlu membongkar lemari mencari pakaian anak.
Semua sudah tersedia.
Kesiapsiagaan bukan tentang menunggu bencana.
Kesiapsiagaan adalah tentang mempersiapkan diri sebelum keadaan memaksa kita untuk bertindak.
Karena isi tas siaga sebenarnya adalah rasa sayang
Semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa tas siaga bukan sekadar kumpulan barang.
Di dalamnya ada bentuk perhatian seorang ibu.
Pakaian untuk memastikan anak tetap nyaman.
Makanan supaya anak tidak kelaparan.
Obat untuk berjaga-jaga.
Air untuk kebutuhan dasar.
Senter agar kami tidak berjalan dalam gelap.
Power bank agar komunikasi tetap terjaga.
Dokumen penting agar urusan keluarga tidak semakin rumit.
Dan masker karena saya pernah melihat sendiri bagaimana abu vulkanik bisa datang bahkan ke tempat yang jauh dari gunung.
Saya tinggal di Sidoarjo.
Semeru berada jauh dari rumah saya.
Saya tidak tahu apakah suatu hari keluarga saya akan merasakan dampak erupsi Semeru atau tidak.
Saya juga tidak ingin menakut-nakuti keluarga dengan membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
Tetapi saya ingin belajar dari pengalaman.
Karena saya pernah melihat abu vulkanik sampai ke rumah meski sumber erupsinya berada jauh.
Maka kali ini, saya memilih untuk lebih siap.
Bukan karena saya takut.
Tetapi karena saya punya keluarga yang ingin saya lindungi.
Dan mungkin, itulah makna sebenarnya dari tas siaga bagi seorang ibu.
Bukan sekadar baju ganti.
Bukan sekadar air minum.
Bukan sekadar sebuah tas yang diletakkan di dekat pintu.
Tas siaga adalah cara sederhana seorang ibu berkata kepada keluarganya: “Kalau keadaan berubah, kita sudah siap.”
