“Kamis, mau ikutan bekam nggak?*
Pesan singkat dari seorang teman, langsung saya iyakan. Kapan lagi bisa coba bekam bareng. Apalagi, setelah bekam, kami mau kulineran, hahaha.
Hmm di usia menjelang 40 tahun ini, saya semakin concern menjaga kesehatan. Selain mengatur pola makan dan olahraga rutin, saya tak takut mencoba hal baru yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh, salah satunya : bekam.
Ya, walaupun sebenarnya saya agak takut juga ya. Kalau bayangin gambar orang lagi dibekam rasanya kok ngilu gitu. Darah disedot keluar.
Bekam dan Sunnah Nabi

Sebenarnya, dari dulu saya tahu tentang terapi bekam ini. Bekam yang akhir-akhir jadi tren wellness, sebenarnya adalah praktik pengobatan yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Bekam atau hijamah adalah praktik pengobatan tradisional yang berasal dari Timur Tengah. Bahkan, bekam dikenal sebagai salah satu bentuk pengobatan yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Terdapat salah satu hadis Shahih al-Bukhari menyebutkan bekam dalam konteks pengobatan. Ini membuat saya semakin ingin mencoba bekam.
Bagi saya, bekam tidak sekedar tren wellness semata, tetapi juga sebagai salah satu ikhtiar menjaga kesehatan yang memiliki tempat dalam tradisi pengobatan Islam.
Sebenarnya, Bekam Itu Apa?
Secara sederhana, bekam dilakukan dengan cara memberikan tekanan negatif atau hisapan pada permukaan kulit menggunakan cangkir khusus.
Bekam sendiri terbagi jadi dua, bekam basah dan bekam kering. Bekam basah atau wet cupping dilakukan dengan cara membuat luka kecil pada kulit, setelah proses penyedotan sehingga sejumlah darah keluar. Sedangkan bekam kering atau dry cupping dilakukan dengan tidak menyayat kulit.
Kebetulan, saya mencoba bekam basah.
Bekam Secara Ilmiah
Walau bekam adalah pengobatan tradisional sejak ratusan lalu, apakah pengobatan ini bermanfaat secara ilmiah?
Hmm nyatanya jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”.
National Center of Complementary and Integrative Health (NCCIH) menyebutkan bahwa penelitian tentang bekam memang sudah ada, tetapi sebagian besar memiliki kualitas yang rendah. Bekam mungkin membantu mengurangi rasa sakit, tetapi kekuatan buktinya belum cukup kuat untuk menyimpulkan manfaatnya pada berbagai kondisi kesehatan.
Baca Juga : Di Balik Nilai Bagus Murid, Ada Mata SePeLe yang Nyaris Saya Abaikan
Penelitian yang lebih baru juga memberikan gambaran yang cukup menarik.
Sebuah Systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan pada 2025, menganalisis 72 uji klinis dengan total 5.720 peserta. Hasilnya menunjukkan adanya potensi manfaat bekam dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pada kondisi yang berkaitan nyeri. Tetapi, peneliti juga mencatat bahwa seluruh penelitian yang masuk memiliki risiko bias tinggi sehingga kualitas bukti keseluruhannya masih rendah.
Bekam punya potensi manfaat, terutama dalam membantu mengurangi rasa sakit pada kondisi tertentu, tetapi belum tepat jika disebut sebagai tetapi yang terbukti menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Bekam di Rumah Sehat Masjid Al Akbar
Lalu, bagaimana pengalaman bekam pertama saya?
Saya diajak teman bekam di Rumah Sehat Masjid Al Akbar Surabaya. Kebetulan letaknya tak jauh dari rumah dan sejalan dengan lokasi kantor suami.
Jadi, pagi itu saya berangkat bareng suami. Saya dan teman janjian di Masjid Al Akbar jam 8 pagi.
Ternyata, Teman-teman datang menjelang pukul 9. Kami bertiga langsung menuju Rumah Sehat. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 100.000.
Kami cukup lama menunggu terapis bekam datang. Ketika terapis datang, saya dipanggil pertama kali.
Jujur, saat masuk ruang praktik, saya sedikit deg deg an. Duh, sakit nggak ya. Pikiran itu bergejolak dalam hati.
Sebelum memulai, terapis tanya apa keluhan saya dan mengoleskan minyak di punggung saya. Saat mulai, saya disarankan membaca surat Al-Fatihah.
Baca Juga : Enyahkan Karang Gigi dengan Mengunyah
Rasa sakit mulai menjalar saat jarum mulai menyayat kulit saya. Tapi, untungnya saya tahan dengan rasa sakitnya.
Setelah 30 menit proses bekam pun selesai. Ada tujuh titik di punggung yang mengeluarkan darah. Menurut terapi, kondisi darah saya sangat baik. Meski baru pertama kali bekam, darah saya tidak kotor.
Katanya, ini juga karena gaya hidup yang saya lakukan. Menjaga pola makan dan rutin olahraga membuat darah saya bersih. Tidak ada tanda-tanda penyakit seperti kolesterol ataupun darah tinggi di tubuh. Dari darah yang keluar, menurut terapisnya, organ-organ dalam tubuh saya sehat. Alhamdulillah.
Jadi, Apakah Setelah Bekam Saya Langsung Merasa Sehat?
Saya merasakan tubuh lebih rileks setelah menjalani bekam. Saya bahkan bisa tidur siang dengan pulas, setelah bekam.
Tetapi saya tidak ingin mengatakan bahwa semua rasa pegal atau keluhan tubuh otomatis hilang karena bekam. Pengalaman setiap orang tentu berbeda.
Saya juga tidak menganggap bekam sebagai pengganti olahraga, pola makan sehat, tidur cukup, ataupun pemeriksaan kesehatan.
Justru setelah pengalaman ini saya semakin sadar bahwa menjaga kesehatan membutuhkan banyak hal yang dilakukan secara konsisten.
Bekam hanyalah salah satu bentuk ikhtiar.
Bukan satu-satunya.
Dan tentu saja, bekam juga bukan berarti “mengeluarkan semua racun dari tubuh” seperti klaim yang kadang kita temukan di media sosial. Klaim seperti itu belum didukung bukti ilmiah yang memadai.
Perhatikan Keamanan Saat Bekam
Karena bekam basah melibatkan darah dan luka pada kulit, saya merasa aspek keamanan tidak boleh diabaikan.
Bekam dapat menyebabkan bekas sementara pada kulit. Risiko lainnya antara lain perubahan warna kulit, luka bakar, infeksi, hingga perdarahan. Jika alat yang digunakan tidak steril, ada risiko penularan penyakit yang ditularkan melalui darah. Pada kasus tertentu, bekam basah yang dilakukan berulang juga dapat menyebabkan anemia akibat kehilangan darah.
Karena itu, memilih tempat dan praktisi yang memperhatikan kebersihan serta prosedur keamanan menjadi sangat penting.
Buat saya, menjalani terapi apa pun tidak cukup hanya dengan bertanya, “Apa manfaatnya?”
Kita juga perlu bertanya:
“Apakah aman dilakukan?”
Menjelang 40 Tahun, Saya Tidak Lagi Ingin Melawan Usia
Pengalaman pertama bekam ini mungkin terlihat sederhana.
Saya hanya diajak teman, penasaran, lalu mencoba.
Tetapi ternyata dari pengalaman sederhana itu saya mendapatkan satu refleksi penting.
Menjelang usia 40 tahun, saya semakin sadar bahwa menjaga kesehatan bukan pekerjaan yang bisa dilakukan secara instan.
Tidak ada satu olahraga yang bisa menjamin kita sehat selamanya. Tidak ada satu makanan yang bisa menyelesaikan semua masalah kesehatan. Dan tidak ada satu terapi yang bisa menggantikan kebiasaan hidup sehat.
Yang ada adalah kumpulan kebiasaan kecil yang kita lakukan terus-menerus.
Berolahraga. Makan dengan lebih baik. Tidur cukup. Mengelola stres. Memeriksakan kesehatan. Memberi tubuh waktu untuk beristirahat. Dan sesekali mencoba sesuatu yang baru dengan tetap kritis terhadap informasi yang kita terima.
Termasuk bekam.
Saya mungkin memang sedang memasuki usia 40.
Tetapi saya tidak ingin sibuk melawan usia.
Saya justru ingin bersiap menyambutnya.
Karena tubuh ini akan menjadi rumah saya untuk waktu yang panjang. Dan kalau saya ingin tetap aktif, sehat, dan bahagia sampai tua nanti, rasanya sudah waktunya saya lebih sering mendengarkan tubuh sendiri.
Sebagaimana seorang teman Blogger Lolita (lolos lima puluh tahun) yang masih sehat dan aktif berkarya membuat ilustrasi Canva.
Bekam menjadi pengalaman pertama saya.
Bukan karena saya tiba-tiba menemukan satu terapi ajaib.
Tetapi karena saya mulai memahami satu hal sederhana:
merawat tubuh bukan tentang menjadi muda selamanya, melainkan tentang memastikan tubuh tetap mampu menemani kita menjalani hidup yang kita cintai.

