Bagaimana ibu homechooler mengelola stres?
Tidakkah rentan stres saat harus mengajari anak sendiri ditambah dengan tugas-tugas domestik?
Banyak orang yang bertanya seperti itu pada saya. Memang bagaimana ibu homechooler mengelola waktu dan stres banyak menjadi pertanyaan.
Kalau ditanya apakah ibu homechooler rentan stres? Pasti iya, jawabannya. Lalu, bagaimana bisa bertahan?
Ini yang akan saya ceritakan sekarang.
Keputusan Homeschooling
Keputusan homeschooling ini bukanlah keputusan yang tiba-tiba. Saat pandemi datang, si sulung baru satu semester merasakan sekolah SD. Dia pun beradaptasi dengan sistem sekolah daring yang berlaku saat itu.
Baca Juga : Tahun Ajaran Baru Masih PJJ? Jangan Khawatir, Yuk Simak Tips Ini Agar Sukses Dampingi PJJ
Saat naik ke kelas dua, dia sudah ingin homeschooling saja. Namun, saya memintanya bertahan sebentar, siapa tahu setelah ini pandemi usai. Dan dia pun bisa kembali belajar ke sekolah.
Baca Juga : Enam Pelajaran Berharga yang Anak Dapatkan Saat Sekolah dari Rumah
Nyatanya, pandemi terus berlanjut. Hingga saat naik kelas tiga, si sulung sudah tidak tahan. Dia ingin sesuatu yang lebih menantang. Bosan dengan metode belajar dari yang kebanyakan hanya setor tugas dan sesekali ada video konferensi.
Akhirnya, kami bersepakat untuk homeschooling. Sebenarnya sekolah yang sekarang ini blended learning. Anak tak hanya belajar di rumah, tapi juga sesekali belajar di sekolah.
Baca Juga : Cerita Anak Bersekolah di Sekolah Murid Merdeka
Namun, karena porsi belajar di rumah lebih banyak, terkesan seperti homeschooling. Dan memang orang tua harus sering terlibat. Orang tua menjadi fasilitator belajar anak-anak di rumah.
Tantangan Ibu Homechooler
Apa tantangan yang dihadapi oleh ibu homechooler? Tantangan terbesar adalah bagaimana mengelola waktu. Bagaimanapun, tugas bertambah karena harus menjadi fasilitator belajar anak-anak di rumah, tetapi waktu dan tenaga tidak berbanding lurus.
Akibatnya, ibu merasa kelelahan hingga berujung tantrum. Emosi ibu homechooler juga naik turun, lho. Akibatnya, ibu homechooler rentan stres.
Ibu Homechooler Rentan Stres?
Apakah ibu homechooler rentan stres? Sejauh ini saya belum menemukan penelitian ilmiah yang menyebutkan bahwa ibu homechooler rentan stres. Namun, berkaca saat awal pandemi datang, dimana anak-anak harus sekolah di rumah. Muncul berbagai keluhan dari para ibu di sosial media.
Banyak ibu-ibu yang mengeluh stres saat mendampingi anak-anak belajar di rumah. Tak hanya kerepotan membagi waktu dengan tanggung jawab baru sebagai fasilitator anak, tetapi juga harus ikut belajar materi pelajaran anak.
Diawal saat si sulung mulai homeschooling, saya tidak terlalu kaget. Mungkin karena sebelumnya saya sudah beradaptasi saat mendampingi si sulung sekolah daring.
Baca Juga : 7 Kunci Sukses Saat Dampingi Anak Sekolah di Rumah
Namun, saya harus akui, terkadang stres itu muncul. Terutama jika si sulung mulai tidak disiplin melakukan tanggung jawabnya dan saat saya punya banyak beban pekerjaan yang harus diselesaikan.
Saya jadi lebih sering uring-uringan. Lebih sering memarahi si sulung. Bahkan, nyaris sempat putus asa. Ingin rasanya mengembalikan si sulung sekolah di sekolah saja.
Cara Mengelola Stres
Lalu, apa yang dilakukan ketika emosi naik turun? Bagaimana cara saya mengelola stres?
Pertama, saya biasa ambil jeda sejenak. Menenangkan diri di kamar. Berusaha menguasai emosi yang datang. Jika sudah tenang, saya pun mulai mencari tahu apa penyebab emosi saya naik.
Kedua, berbagi peran dengan suami. Ketika memutuskan untuk homeschooling, saya dan suami sudah bersepakat untuk saling berbagi peran. Suami bertanggungjawab mendampingi saat anak belajar matematika dan bahasa Inggris. Sedangkan saya mendampingi anak belajar sains, bahasa Indonesia dan agama.
Tak hanya berbagi peran dalam menjadi fasilitator belajar anak-anak saja, kami pun berbagi peran dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dengan begitu saya tidak akan kelelahan, stres pun tidak akan datang.
Ketiga, komunikasi efektif dengan anak. Agar tak emosi menghadapi anak, saya berusaha menjalin komunikasi efektif. Mengajaknya berkomunikasi dengan baik tentang apa saja tugas sekolahnya. Memastikan dia sekolah dengan penuh tanggung jawab.
Baca Juga : Meningkatkan Komunikasi yang Baik Antara Guru dan Orang Tua Selama PJJ
Keempat, me time. Ditengah kesibukan pekerjaan kantor dan rumah, juga menjadi fasilitator belajar anak-anak, saya tetap menyempatkan waktu untuk me time.
Me time itu penting. Saya biasa menghabiskan waktu me time dengan membaca buku, menikmati kopi di kedai kopi, ataupun melakukan yoga. Bagi saya me time adalah waktunya re energi. Setelah me time, saya kembali siap menjalankan semua peran.
Kelima, kelola ekspektasi. Mengelola ekspektasi adalah cara yang penting dalam mengelola stres. Terkadang, kita dibuat pusing dengan ekspektasi yang kita buat sendiri.
Saat anak homeschooling, tentu saja prestasi akademik bukanlah satu-satunya tujuan. Saya lebih ingin anak bisa mengembangkan skillnya dan menjadi seorang pembelajar sejati. Fokus pada kemampuan anak, bukan keinginan saya sebagai orang tua. Ini akan membuat kita lebih santai saat mendampingi anak homeschooling. Tak akan didera stres berkepanjangan.
Penutup
Mengelola stres itu sangat penting bagi ibu homechooler. Agar ibu tak melakukan kekerasan pada anak, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Jangan sampai pilihan homeschooling membuat keluarga menjadi korban KDRT, baik KDRT pada wanita maupun pada anak.
Demikian cerita saya sebagai ibu homechooler dalam mengelola stres. Semoga cerita ini bisa membantu teman-teman homeschooler. Homeschooling memang bukan pilihan mudah, namun percayalah ini akan menjadi keputusan yang tepat ketika kita sudah memilih.
Semangat!!!







Leave a Reply