Bagaimana Ibu Homeschooler Mengelola Waktu?
Akhir-akhir ini banyak yang bertanya seperti itu ke saya. Maklum, ini adalah tahun kedua saya menjadi ibu homeschooler.
Banyak yang penasaran, bagaimana saya bisa menjadi fasilitator belajar dua anak sekaligus masih aktif menulis dan mengajar.
Sejujurnya, saya juga belum terlalu jago dalam mengelola waktu ini. Masih sering jatuh bangun, bahkan kadang keteteran. Mengelola waktu ini adalah tantangan tersendiri bagi saya.
Saya masih harus banyak belajar memilih beragam metode manajemen waktu yang tepat. Masih harus sabar jika ada hal-hal diluar kendali yang bisa mengacaukan jadwal yang sudah dibuat.
Sebenarnya mengelola waktu itu hal yang sederhana. Kegiatan yang kita anggap sebagai prioritas, tentu harus dikerjakan.
Berikut adalah cara saya mengelola waktu.
1. To do list
Saya selalu menggunakan metode manajemen waktu daily planner alias to do list. Menuliskan semua hal-hal yang harus saya lakukan. Tak hanya kegiatan harian, saya juga membuat to do list untuk kegiatan mingguan dan bulanan.
Baca Juga : 7 Cara Belajar Panca Indra yang Seru dan Menyenangkan
Saat membuat list, saya menuliskan kegiatan prioritas di nomor satu. Mendampingi anak-anak belajar adalah to do list pertama yang saya lakukan setiap harinya.
2. Membuat kuadran aktivitas
Saya selalu membuat kuadran aktivitas untuk menentukan jadwal harian. Kuadran aktivitas ini sudah lama saya andalkan, sejak bergabung di Ibu Profesional.
Berikut adalah beberapa aktivitas saya berdasarkan strategi 4 kuadran.
Kuadran 1 : penting dan mendesak
Di kuadran ini saya akan menuliskan aktivitas apa saja yang penting dan mendesak untuk dilakukan. Misalnya, menjadi fasilitator belajar anak-anak, menulis artikel untuk klien dan mengajar.
Kuadran 2 : penting namun tidak mendesak
Untuk aktivitas yang penting tapi bisa dicicil, saya masukkan pada kuadran 2. Meski tidak mendesak saya tetap membuat deadline pengerjaan.
Misalnya, untuk menulis buku saya masukkan ke kuadran 2 ini. Penting namun tidak mendesak.
Kuadran 3 : mendesak namun tidak penting
Kuadran 3 ini untuk kegiatan yang tidak penting tapi tetap harus dikerjakan. Misalnya, menonton drama Korea. Ha? Nonton drama Korea itu penting? Penting dong!
Bagi saya menonton drama Korea sekaligus chit chat dengan teman-teman Drakor Class, salah satunya Rani Noona itu penting. Penting untuk menjaga kesehatan mental saya.
Baca Juga : Kurikulum Merdeka, Belajar Jadi Menyenangkan dan Bermakna
Menonton drama Korea satu episode setiap harinya menjadi self reward tersendiri bagi saya. Biar semangat mengerjakan semua aktivitas harian dengan penuh tanggung jawab dan kegembiraan.
Kuadran 4 : tidak penting dan tidak mendesak
Kadang, kegiatan-kegiatan yang ada di kuadran 4 ini yang lebih banyak mencuri waktu kita. Salah satunya berselancar di media sosial. Siapa yang suka lupa waktu karena melihat beragam video-video di media sosial?
Hehe, saya kadang seperti itu. Tapi itu dulu. Sekarang jika ingin mencari hiburan dengan menonton video di sosial media, saya hanya alokasikan 10 menit di antara kandang waktu.
3. Membangun support system
Jangan menjadi ibu super! Melakukan semua aktivitas sendirian. Bangun support system.
Ajak suami bekerjasama. Mulai dari melakukan tugas-tugas rumah tangga hingga menjadi fasilitator belajar anak-anak.
Misalnya, suami saya bertanggung jawab menjadi fasilitator belajar anak-anak di mata pelajaran olahraga, matematika, dan bahasa Inggris. Sedangkan saya mendampingi anak-anak belajar mata pelajaran IPA, agama, dan bahasa Indonesia.
Atau mendelegasikan pekerjaan yang bisa didelegasikan. Misalnya, saya yang selalu menyerahkan urusan setrika baju ke ahlinya a.k.a laundry. Kadang, sesekali juga mengandalkan warteg untuk urusan perut.
Bagi saya, pekerjaan rumah tangga itu bisa didelegasikan. Kecuali, pekerjaan mengasuh dan mendidik anak-anak. Jadi, menjadi fasilitator belajar anak-anak itu lebih penting dibandingkan urusan memasak ataupun setrikaan, setuju? Hehe.
Dengan memiliki support system yang baik, saya bisa lebih mudah mengelola waktu.
4. Me Time
Jangan lupa sediakan waktu untuk me time. Ibu perlu jeda sejenak sendirian. Melakukan hobi atau mencari hiburan.
Me time saya biasanya baca buku sambil ngopi di cafe langganan. Atau bisa menghabiskan waktu sejanak bersama teman-teman. Me time adalah saat untuk re-charge energi.
5. Menulis jurnal syukur
Setiap hari, di penghujung waktu saya membiasakan diri menulis jurnal syukur. Menulis jurnal syukur itu bermanfaat menjaga kesehatan mental. Membiasakan kita selalu bersyukur dengan setiap keadaan yang kita alami sepanjang hari itu akan mengalirkan semangat positif untuk bersemangat menjalani hari-hari.
Jadi, itu tadi hal-hal yang saya lakukan untuk mengelola waktu. Tanggung jawab sebagai ibu homeschooler tak membuat saya kehilangan diri sendiri. Bisa tetap melakukan hal-hal lain yang membuat saya tetap bahagia.
Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman yang memilih menjadi ibu homeschooler. Jangan takut menjadi ibu homeschooler. Ibu homeschooler tetap bisa bahagia!








Leave a Reply