5 Ide Bermain Dolanan Tradisional Berbahan Kayu

Share This Post

 

Permainan tradisional

5 ide bermain dolanan tradisional berbahan kayu ini bisa jadi inspirasi teman-teman dalam mengisi liburan sekolah anak-anak. Tak ada salahnya jika liburan kali ini anak-anak dikenalkan dengan beragam dolanan (permainan) tradisional. Permainan tradisional itu murah, mudah, dan berdampak!

Permainan Tradisional

Permainan tradisional adalah jenis permainan yang dimainkan oleh anak-anak pada suatu daerah, serta merupakan suatu tradisi yang diwarisi secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Permainan tradisional termasuk bagian dari kearifan lokal masyarakat. 

Bicara soal permainan tradisional, beberapa waktu lalu saya mengajak anak-anak berkunjung ke Kampung Lali Gadget yang ada di daerah Wonoayu, Sidoarjo. 

Kampung Lali Gadget tak hanya ingin menyelamatkan anak dari kecanduan terhadap gadget, tetapi juga ikut melestarikan dolanan tradisional yang hampir punah. Kampung Lali Gadget  juga ingin melestarikan kearifan lokal. 

Permainan tradisional ini juga punya banyak manfaat, lho. 

Permainan tradisional dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter anak. Selain itu permainan tradisional bisa mengembangkan aspek moral, nilai agama, sosial, bahasa, dan fungsi motorik. 

Ide Bermain Dolanan Tradisional Berbahan Kayu 

Kebetulan ketika saya datang, Kampung Lali Gadget sedang bermain dengan kurikulum dolanan berbahan kayu dan ranting. Berikut adalah beberapa ide bermain dolanan tradisional berbahan kayu dan ranting yang bisa dimainkan untuk mengisi liburan di rumah. 

Baca Juga : 8 Pekerjaan Digital yang Dibutuhkan di Masa Depan, Cocok untuk Generasi Alpha

1. Ketapel

Permainan tradisional

Siapa yang tidak tahu ketapel? Permainan tradisional ini sampai sekarang masih sering dimainkan oleh anak-anak. Biasa ketapel banyak dimainkan oleh anak laki-laki, tetapi anak perempuan juga bisa kok main ketapel. Buktinya, dua puteri saya enjoy-enjoy saja bermain ketapel ini. 

Baca Juga : Belajar Anggota Tubuh Melalui Lapbook

Katapel terbuat dari bahan kayu dan karet, karet yang digunakan biasanya berasal dari ban kendaraan bekas. Sedangkan peluru yang digunakan biasanya batu kecil atau karet gelang yang dibentuk bulat-bulat sehingga tidak melukai orang lain.

Baca Juga : Belajar Membaca Bersama Taman Huruf 

Biasanya ketapel digunakan untuk berburu hewan kecil seperti burung kecil atau capung, atau sekadar untuk bermain perang-perangan.

2. Patil lele

Permainan tradisional

Patil lele adalah salah satu permainan tradisional dari Jawa Timur yang dimainkan oleh anak-anak dengan menggunakan tongkat kayu. Dalam permainan ini terdapat dua buah tongkat. Tongkat yang pertama sebagai tongkat pemukul dan tongkat kedua sebagai tongkat yang dipukul.

Baca Juga : 7 Tips Agar Anak Bermain Di Luar Tetap Aman yang Perlu Diketahui Orang Tua

Permainan ini dilakukan secara berkelompok, biasanya sebelum bermain anak-anak akan melakukan hom pimpah untuk menentukan kelompok mana yang lebih dahulu memukul tongkat. Untuk menentukan pemenang dalam permainan ini adalah dengan mengukur jarak kayu dari asal pemukul ke tempat tongkat terlempar. 

Bermain patil lele ini nggak hanya seru, tetapi juga memiliki banyak manfaat, yaitu :

• Melatih insting dan ketepatan dalam bertindak

• Melatih kekompakan bekerja sama dalam tim

• Meningkatkan ketahan fisik maupun mental dalam menjaga ego dan emosi

• Melatih sportivitas dalam berkehidupan

• Memumpuk tingkat sosialisasi dalam pergaulan dikarenakan permainan patil lele adalah permainan secara kolektif 

• Menjaga kelestarian tradisi dan kearifan lokal.

3. Dagongan

Permainan tradisional

Dagongan adalah jenis permainan tradisional rakyat Minahasa. Dagongan memiliki arti tolak menolak. Peralatan yang diperlukan dalam permainan ini yaitu berupa bambu gading yang lurus dan ruas-ruasnya harus dibersihkan supaya tidak terdapat cabang yang membahayakan pada waktu tolak menolak. 

Baca Juga : Pentingnya Aktivitas Fisik Sebelum Belajar 

Melalui dagongan ini, anak-anak belajar kerjasama dan sportivitas.  Dagongan merupakan permainan sekaligus olahraga tradisional yang patut untuk dilestarikan.

4. Egrang

Permainan tradisional

Egrang, salah satu permainan tradisional Indonesia yang memanfaatkan keseimbangan badan dalam memainkannya. Permainan berbahan bambu ini tak hanya seru dan menyenangkan. Namun, punya banyak filosofi hidup yang sangat penting dalam mengembangkan karakter generasi penerus bangsa.

Belajar egrang berarti belajar tentang keseimbangan. Bila dibawa ke dalam pemaknaan yang lebih jauh, maka egrang dapat mengingatkan kita tentang keseimbangan dunia-akhirat; keseimbangan hubungan kita pada Allah, sesama makhluk dan lingkungan; dan keseimbangan peran kita di keluarga dan masyarakat.

Keseimbangan dalam egrang lebih mudah tercapai saat kita terus bergerak, bukan hanya diam di tempat. Kita tak akan mencapai keseimbangan hidup dengan hanya berdiam diri, namun justru saat kita terus berkarya, memberi manfaat bagi banyak orang, baik orang-orang terdekat kita maupun lebih luas lagi, saat itulah kita meraih keseimbangan hidup. 

Keseimbangan dalam egrang, juga bukan tujuan akhir, melainkan proses yang berlangsung terus menerus. Maka yang terpenting dalam bermain egrang, juga dalam menjalani hidup, adalah bagaimana manusia dapat menikmati prosesnya dan belajar terus menerus dari langkah-langkah yang kita ambil.

Filosofi ini mengajarkan kepada generasi penerus bangsa, untuk selalu berusaha dalam menjalani kehidupan. Meraih keseimbangan dalam hidup dengan melakukan usaha yang terbaik. 

5. Gasing

Permainan tradisional

Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali.

Gasing terbuat dari kayu dikikis menjadi bentuk gasing. Sedangkan talinya dulu berasal dari kulit pohon Bebaru yang tumbuh di pantai, namun sekarang tali gasing bisa digunakan dengan tali nilon. Panjang tali sekitar satu meter.

Permainan gasing terus berkembang hingga sekarang. Gasing dibentuk bulat dan memiliki tiga bagian penting, yakni kepala, badan kemudian ujung bawa gasing. Di bagian bawah dibuat lekukan yang berfungsi untuk tali gasing.

Gasing bisa dimainkan sendiri-sendiri maupun secara berkelompok. 

Penutup

Nah itu tadi 5 ide bermain dolanan tradisional berbahan kayu. Semoga tulisan ini bisa jadi inspirasi teman-teman dalam mencari ide bermain untuk mengisi liburan sekolah anak-anak.

Bagaimana, sudah tahu mau main apa? Atau adakah yang sudah punya pengalaman bermain dolanan tradisional berbahan dasar kayu ini?

Yuk ceritakan di kolom komentar, ya! 

Terima kasih..

0 Responses

  1. Huwaaa baca ini jadi kangen masa kecil. Dulu aku suka main egrang sama temen-temenku. Kalau erangnya rusak, bapak siap memperbaiki. Hehe.
    Btw dari kelima permainan di atas, aku baru tau yg namanya Dagongan 🙂

  2. Saya kenalnya ketapel, egrang dan gasing saja mbak. Aduh membaca ini kok jadi teringat jaman masih kecil dulu ya, jaman belum kenal gadget, nonton tv pun jarang. Isinya seharian dolan terus sama teman-teman sampai sering dimarahi orang tua karena nggak mau pulang kalau sudah asyik dolanan

  3. Patil lele kayaknya aku belum pernah mainan itu. Egrang pernah tapi nggak bisa seingat aku masi kecil bgt waktu itu tapi seru ya permainan tradisional itu.. masih ada nggak yaaa yg mainan kayak gitu

  4. Seru ya permainannya terutama egrang, semoga makin banyak pihak yang tertarik dan mau terlibat untuk memperkenalkan permainan tradisional agar dimainkan kembali oleh anak-anak zaman sekarang seperti latto-latto

  5. Meskipun judulnya permainan, tapi ada filosofi mendalam ya..
    Sehingga kita semua bisa belajar untuk bermain dan berinteraksi dengan lingkungan juga bersosialisasi dengan akrab bersama teman.

  6. Wah, mainan masa kecil semua. Jadi, kangen deh. Keren banget deh ada kampung yang melestarikan permainan zaman dahulu ini, sehingga anak-anak tidak hanya fokus pada gadget. Bisa mengenal juga permainan tradisional yang super seru ini.

  7. Jadi inget masa kecil akutuuu, beneran bisa lali gadget kalau begini. Keren sekali idenya. Dolanan tradisional berbahan kayu ini bisa jadi inspirasi ide bermain untuk mengisi liburan sekolah anak-anak.

  8. Baru tahu soal Dagongan, keknya di Jawa kurang populer apa ya? Atau ada yang mirip?
    Kalau kecl dulu yang paling sering kumainin tu patil lele, lumayan bikin org bergerak juga 😀 Sekarang mungkin jarang krn tanah lapang jg mulai jarang kali yaa,

  9. Jadi ingat jaman aku masih kecil mba suka main egrang. Kalau sekarang mengemuka lagi Alhamdulillah ya permainan tradisional bisa menoleh sedikit dari gadget.

  10. Aku dulu jaman kecil mainannya ini. Cuma permainan patil lele itu aku lupa lupa ingat yang kaya apa. Gasing dulu aku bikin juga dari bluluk (kelapa yang masih kecil tapi sudah jatuh) dan karet gelang. Seru sekali sih memang permainan anak anak tradisional itu.

  11. Hanya satu mainan yang belum pernah saya dan anak-anak lakukan, namanya Dagongan. Ternyata berasal dari Minahasa, pantas aja belum familiar. Dunia anak-anak adalah masa nya bermain, terutama dengan permainan tradisional seperti ini. Kelak mereka akan mengingat dan semoga akan mengenalkan permainan tersebut pada anak-anak mereka juga

  12. Saya punya gasing waktu kecil dan suka memainkannya bersama adik. Seru, deh! Kami sering mengadu gasing. Nanti gasing siapa yang terpental setelah bertabrakan akan kalah. Ah, membaca artikel ini, saya jadi kangen masa kecil dulu.

  13. Kampung lali gadget ini inovatif banget ya, mbak. Seperti mengajak kita² para orang tua bernostalgia dengan mainan zaman dulu. Aku lama banget enggak mainan egrang. Masih bisaa enggak yaaw. ?

  14. Patil lele tuh kalau di tempatku namanya benthik. Luar biasa meriah kalau pas main ini deh. Dibutuhkan keterampilan untuk bisa memukul bilah bambu atau kayu yang digunakan biar jauuuhh gitu. 🙂

  15. Dari kelima permainan tersebut, aku yang enggak paham tuh Dagongan. Kalau patil lele, tempatku nyebutnya bentik. Etapi anak2 sekarang enggak ada yang paham. Emang sih, permainan tradisional gini harus dilestarikan.

  16. Jadi ingat dulu di dekat rumah ada rumah belajar yang fokus pada dolanan anak. Sekarang malah kehilangan ruhnya. Padahal kayu melimpah di kota kami, mau berapapun ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore