Apa yang terlintas di benak teman-teman tentang kota Medan? Apakah langsung terbayang Danau Toba?
Danau Toba adalah salah satu wisata andalan di Medan, bahkan termasuk destinasi wisata super prioritas di Indonesia.
Namun, tahukah teman-teman, di Medan, masih banyak destinasi wisata lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Salah satunya wisata sejarah.
Di Medan banyak bangunan bersejarah dengan arsitektur kolonial, tak heran dulunya Medan dijuluki sebagai Paris Van Sumatera. Sebab, banyak bangunan arsitektur kolonial layaknya di Eropa.
Saya bercita-cita mengajak anak-anak jalan-jalan ke kota Medan. Tak sekadar jalan-jalan, tapi juga nampak tilas sejarah.
Berikut lima destinasi wisata sejarah di Medan yang layak dikunjungi.
1. Istana Maimun
Istana Maimun adalah salah satu ikon wisata sejarah yang ada di Medan. Istana ini tak hanya indah secara fisik, tetapi juga punya catatan sejarah yang panjang.
Istana peninggalan Kesultanan Deli Serdang ini didirikan pada 18 Mei 1891, oleh Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan pendiri Kota Medan.
Istana ini memiliki tiga lantai dengan 30 ruangan di dalamnya. Di mana setiap ruangan memiliki fungsi yang berbeda, mulai dari ruang tamu kerajaan, ruang acara adat, dapur, gudang, dan kain sebagainya.
Ketika mengajak anak-anak ke Istana Maimun, anak-anak tak hanya bisa belajar tentang sejarah kesultanan Deli dan kota Medan saja, tapi juga bisa belajar keragaman budaya yang ada didalamnya.
Istana Maimun terkadang menggelar beragam pertunjukan seni, mulai tari-tarian ataupun seni pertunjukan. Istana Maimun juga menunjukkan adanya asimilasi budaya. Ornamennya perpaduan budaya Melayu, Islam, Spanyol, China , India dan Itali.
2. Masjid Raya Al Mashun
Tidak jauh dari Istana Maimun, saya bisa mengajak anak-anak berjalan-jalan ke Masjid Raya Al Mashun. Masjid ini juga menjadi saksi kebesaran Kesultanan Deli.
Masjid yang dibangun sejak tahun 1906 ini terbangun dari bahan-bahan impor terbaik dari berbagai penjuru dunia. Marmer dari Italia dan Jerman, kaca patri dari Cina, serta lampu gantung dari Perancis. Desainnya perpaduan antara arsitektur Maroko, Eropa, Melayu dan Timur Tengah.
Baca Juga : Lima Hal Seru yang Bisa Dilakukan di Masjid Agung Surabaya
Masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat Medan. Saat bulan Ramadan tiba, masjid ini menyajikan bubur sop Anyang untuk hidangan berbuka.
Tak akan sulit mencapai masjid ini. Letaknya strategis, dekat dengan bandara, terminal, dan stasiun kereta api. Bisa juga dicapai dengan angkutan kota dan bentor (bacak motor).
3. Rumah Tjong A Fie
Rumah Tjong A Fie adalah salah satu bangunan bersejarah yang ada di kota Medan. Rumah ini dulunya ditinggali oleh saudagar kaya raya, Tjong A Fie.
Tjong A Fie adalah saudagar kaya raya dengan beragam bisnis, mulai dari perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula , bank, bahkan perusahaan kereta api.
Baca Juga: Tips Seru Ajak Anak Naik Kereta Api
Tjong A Fie tak hanya kaya raya, namun juga dermawan. Bahkan selalu menjadi penengah jika terjadi konflik antar etnis yang ada di Medan saat itu
Rumah berlantai dua ini tetap kokoh berdiri meski sudah berusia ratusan tahun. Saat berkunjung ke rumah ini, tak hanya bisa melihat beragam ornamen dan perabotan rumah yang antik saja, tapi bisa melihat bagaimana ruang peribadatan Tjong A Fie.
Tjong A Fie bersama keluarganya memiliki tempat ibadah untuk memuja para dewa lengkap dengan persembahan dan hio. Tempat peribadatan ini mirip dengan kelenteng kecil.
Berkunjung ke rumah Tjong A Fie bisa menjadi tempat anak-anak belajar sejarah serta keragaman yang ada di Indonesia. Anak-anak juga bisa meneladani sikap dermawan dan toleran dari Tjong A Fie.
4. Restoran Tip Top
Lapar jalan-jalan berkeliling bangunan bersejarah di Medan, saatnya mencicipi kuliner khasnya. Ada Restoran Tip Top. Restoran ini juga termasuk bangunan bersejarah di Medan, lho. Tip Top adalah restoran heritage sejak tahun 1930.
Desain arsitektur dan interior restoran ini dipertahankan seperti tahun 1930 an. Pelayan laki-laki menggunakan pakaian stelan putih-putih lengkap dengan peci hitam, sementara pelayanan perempuan menggunakan blus batik, bermotif tradisional dengan sogan warna gelap.
Restoran ini menyajikan beragam menu legendaris, mulai dari masakan barat hingga hidangan Nusantara. Pasti enak mencicipi seduhan kopi Sidikalang dengan kudapak kue-kue khas Belanda.
Baca Juga : Bukit Jaddih, Wisata Ala Cappadocia di Pulau Garam
Restoran ini dulunya merupakan tempat berkumpulnya para meneer, mevrouw, hingga mejuffrow. Jadi mengingatkan saya pada bangunan Balai Pemuda Surabaya, tempat hiburan para tuan dan Noni Belanda pada zaman kolonial.
5. Gedung Warenhuis
Terakhir, saya akan mengajak anak-anak ke gedung Warenhuis. Warenhuis adalah supermarket pertama di kota Medan yang dibangun pada tahun 1919. Gedung ini termasuk aset heritage kota Medan. Dan akan dijadikan bangunan cagar budaya.
Baca Juga : Cimory Dairyland Prigen, Wisata Edukasi di Pasuruan
Warenhuis ini menjadi saksi sejarah perkembangan ekonomi modern di kota Medan. Bangunan dua lantai ini juga punya bunker sendiri, yang dulunya sebagai tempat penyimpanan stok supermarket.
Meski menjadi supermarket pertama, Warenhuis hanya bertahan selama 25 tahun. Kejayaan Warenhuis meredup ketika kedatangan Jepang. Ditengah suasana kota Medan yang tidak kondusif pada masa pendudukan Jepang, pemiliknya meninggalkan Indonesia.
Gedung ini banyak dijadikan lokasi foto prewedding. Dan menjadi tempat berkumpulnya berbagai organisasi pemuda yang ada di Medan.
Bagaimana teman-teman, seru juga ya jika bisa berkeliling ke tempat-tempat wisata sejarah yang ada di Medan. Apalagi jika nanti bisa ditemani oleh Travel Blogger Medan. Pasti perjalanan akan lebih menarik.
Baca Juga : Cuma Sehari di Medan, Bisa Kemana Aja?
Ah, semoga bisa segera jalan-jalan ke Medan. Anak-anak pasti suka diajak berkunjung ke tempat wisata sejarah seperti ini.
Doakan, ya!








Leave a Reply