10 Pertanyaan yang Sebaiknya Ditanyakan kepada Guru Saat Terima Rapor

Share This Post

“Nilainya bagus, Bu.”

Kalimat itu sering kali menjadi penutup percakapan antara orang tua dan guru saat pembagian rapor.

Padahal, kesempatan bertemu guru hanya terjadi beberapa kali dalam setahun. Sayang sekali jika momen berharga tersebut hanya digunakan untuk melihat angka-angka di rapor.

Seiring bertambahnya usia anak-anak saya, saya mulai menyadari bahwa rapor hanyalah ringkasan kecil dari proses belajar mereka selama satu semester. Di balik angka-angka itu ada cerita tentang kepercayaan diri, pertemanan, kemandirian, karakter, hingga potensi yang mungkin belum terlihat di rumah.

Karena itulah, setiap kali menghadiri pembagian rapor, saya selalu menyiapkan beberapa pertanyaan untuk guru.

Bukan untuk mencari kekurangan anak, melainkan untuk memahami mereka dengan lebih baik.

Mengapa Orang Tua Perlu Aktif Bertanya?

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan terbukti berdampak positif terhadap perkembangan anak.

Menurut laporan UNESCO mengenai keterlibatan keluarga dalam pendidikan, anak-anak yang mendapatkan dukungan aktif dari orang tua cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik, motivasi belajar yang lebih tinggi, serta kemampuan sosial dan emosional yang lebih kuat.

Artinya, terima rapor bukan sekadar acara mengambil hasil belajar, tetapi kesempatan membangun kolaborasi antara rumah dan sekolah.

Berikut sepuluh pertanyaan yang menurut saya penting untuk diajukan kepada guru.

1. Bagaimana perkembangan anak saya dibandingkan semester sebelumnya?

Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada menanyakan ranking.

Fokus pada perkembangan membantu kita melihat pertumbuhan anak secara utuh.

Mungkin nilai matematikanya belum sempurna, tetapi kemampuan membaca dan rasa percaya dirinya meningkat pesat.

Kemajuan seperti ini sering kali tidak langsung terlihat dari angka.

2. Mata pelajaran apa yang paling menonjol?

Kita sering terlalu fokus pada kelemahan.

Padahal kelebihan anak juga perlu mendapat perhatian.

Guru biasanya dapat melihat bidang yang membuat anak antusias, cepat memahami materi, atau menunjukkan kemampuan di atas rata-rata teman sebayanya.

Jawaban dari pertanyaan ini bisa menjadi petunjuk awal untuk menemukan minat dan bakat anak.

3. Mata pelajaran apa yang masih menjadi tantangan?

Jika ada nilai yang kurang memuaskan, jangan langsung menyimpulkan bahwa anak malas belajar.

Cobalah memahami penyebabnya.

Apakah konsepnya sulit dipahami?

Apakah anak kurang percaya diri?

Apakah ada faktor lain yang mempengaruhi?

Dengan mengetahui akar masalahnya, orang tua dapat memberikan dukungan yang lebih tepat.

4. Bagaimana kemampuan anak memahami instruksi dan materi baru?

Di dunia yang berubah sangat cepat, kemampuan belajar menjadi keterampilan penting.

Bukan hanya soal menghafal, tetapi juga memahami informasi baru dan menggunakannya untuk memecahkan masalah.

Guru dapat memberikan gambaran apakah anak mampu mengikuti instruksi dengan baik atau masih memerlukan pendampingan.

5. Apakah anak aktif bertanya dan berpartisipasi di kelas?

Keberanian berbicara dan menyampaikan pendapat merupakan soft skill yang sangat berharga.

Sayangnya, kemampuan ini tidak tercantum dalam rapor.

Melalui guru, orang tua bisa mengetahui apakah anak cukup percaya diri untuk berinteraksi selama proses belajar berlangsung.

6. Bagaimana hubungan anak dengan teman-temannya?

Menurut hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, siswa yang merasa diterima dan memiliki hubungan sosial yang baik di sekolah cenderung menunjukkan kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi.

Karena itu, saya selalu ingin tahu:

Apakah anak memiliki teman dekat?

Apakah ia nyaman bergaul?

Apakah ada kesulitan sosial yang perlu diperhatikan?

Pertanyaan ini sering kali menghasilkan informasi yang tidak pernah saya lihat di rumah.

7. Bagaimana sikap anak saat bekerja dalam kelompok?

Kemampuan bekerja sama merupakan salah satu kompetensi penting abad ke-21.

Ketika anak bekerja dalam kelompok, guru dapat melihat apakah ia mampu mendengarkan pendapat orang lain, mengambil peran kepemimpinan, atau justru cenderung pasif.

Informasi ini sangat berguna untuk membantu perkembangan karakter anak.

8. Apakah anak menunjukkan kemandirian dalam menyelesaikan tugas?

Kemandirian tidak muncul begitu saja.

Ia perlu dilatih sejak kecil.

Saya biasanya bertanya apakah anak mampu menyelesaikan tugas tanpa banyak bantuan, mengatur perlengkapan sekolah, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Kemandirian sering kali menjadi bekal yang lebih penting daripada sekadar nilai tinggi.

9. Apakah guru melihat potensi atau bakat tertentu yang menonjol?

Kadang guru melihat sisi anak yang tidak terlihat oleh orang tua.

Baca Juga : Pandu 45 : Menemukan Bakat Anak Melalui Ragam Aktivitas

Misalnya, kemampuan memimpin, kreativitas, kemampuan berbicara di depan umum, atau ketelitian dalam mengerjakan tugas.

Informasi seperti ini sangat berharga untuk membantu mengembangkan potensi anak di masa depan.

10. Apa yang bisa kami lakukan di rumah untuk mendukung perkembangan anak?

Inilah pertanyaan penutup favorit saya.

Guru mengamati anak selama berjam-jam setiap hari di lingkungan belajar yang berbeda dari rumah.

Baca Juga : Ekstrakurikuler di Sekolah dan Panduan Memilih Ekskul untuk Anak

Mereka sering memiliki masukan yang sangat spesifik dan praktis.

Misalnya:

  • Membiasakan anak membaca 15 menit setiap hari.
  • Memberikan tanggung jawab kecil di rumah.
  • Melatih keberanian berbicara.
  • Mengurangi penggunaan gawai.
  • Mengembangkan minat tertentu melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Kolaborasi antara guru dan orang tua akan memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan jika keduanya berjalan sendiri-sendiri.

Terima Rapor Bukan Ajang Menghakimi

Saya percaya bahwa hari pembagian rapor seharusnya menjadi hari refleksi, bukan hari penghakiman.

Anak-anak telah berusaha selama satu semester.

Mereka belajar memahami pelajaran baru, beradaptasi dengan teman-teman, menghadapi kegagalan, mencoba hal-hal baru, dan bertumbuh sedikit demi sedikit.

Ketika pulang membawa rapor, saya ingin anak-anak merasa dihargai, bukan diinterogasi.

Saya ingin mereka tahu bahwa nilai memang penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan masa depan mereka.

Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan mencetak anak dengan angka tertinggi.

Baca Juga : 5 Hal yang Harus Dilakukan untuk Sambut Tahun Ajaran Baru

Tujuan pendidikan adalah membantu setiap anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, mandiri, percaya diri, dan bahagia.

Dan untuk memahami proses itu, kadang kita hanya perlu mulai dengan bertanya kepada gurunya.

10 Responses

  1. Dari TK sampe anak tertua smp, aku ga pernah ke sekolah mereka utk ambil raport. Selalu suami. Ada alasannya juga sih, kenapa ga mau.

    Tp untung suami selalu semangat tiap ambil raport, Krn memang dia jauuuuuh lebih perhatian dan care kalau soal anak2. Jadi walau anak2 ga Deket Ama papinya, at least suami lebih tahu perkembangan anak2 di sekolah. Dan memang suami juga yg paling banyak tanya gimana anak2 di sekolah 😄.

  2. Wah penting banget nih, saya catat semua. Memang banyak yang harus ditanyakan ya, utamanya kalau pas anak lagi ambil rapot ke sekolah tu.
    Makasih infonya mbak.

  3. Dulu saya juga sering terjebak cuma fokus sama angka-angka di rapor. Padahal pas diajak ngobrol lebih dalam sama gurunya, banyak banget cerita seru soal perkembangan karakter anak yang nggak bakal kelihatan cuma dari selembar kertas.
    Paling suka sama poin nomor 6 dan 10. Menurut saya, tahu gimana hubungan sosial mereka di sekolah itu krusial banget buat kesehatan mental anak. Ini beneran jadi reminder berharga banget pas momen bagi rapor nanti!

  4. wah kayaknya nanti aku harus bikin catatan nih, mbak pas terima rapor anak biar nggak kelupaan apa aja yang harus ditanyakan. kemarin pas bagi rapor aku cuma nanya nilai dan apakah anaknya aktif aja di kelas padahal ada orang tua lain yang lumayan lama nanya-nanya ke gurunya.

  5. Jujur aku tipe ortu yang bingung kalau diminta ngobrol ma guru wkwk. Daftar pertanyaan di list bisa jadi panduanku nih kalau next raportan.
    Tapi sejauh ini pendapatku sama gurunya anak2 kalau ngobrol sejalan sih hehe, mungkin krn sekolahnya semi formal jadi tetep lebih banyak ortu yang memantau ya 😀
    Setuju aku soal raport selow, tapi suka mumet sama ujian negara/ penyetaraan ijazah haha, makanya tetep gak boleh santai2 anak2ku.
    Jadi belajarnya walau santai tetep wajib serius karena demi masa depan mereka sendiri.

  6. Pertanyaan yang bagus ini buat diajukan orangtua ke walasnya. Apalagi bagian yang hal apa yang bisa didukung orangtua di rumah buat perkembangan anaknya, dengan begini tercipta saling dukung baik di rumah maupun di sekolah

  7. Bener sekali nih. Saat terima rapor, jarang loh guru ngasih tahu 10 hal di atas. Ortu jg hrs proaktif buat nanya ke guru soal 10 hal ini.

    Masalahnya, ortu biasanya hanya terima hasil, angka yg bagus, tanpa tulisan merah. Kalo bgs ya udh selesai. Begitu sebaliknya, anak sampe rumah lgsg dimarahin.

    Pdhl dgn bs terjawab 10 hal di atas tadi, kita bs antisipasi pendidikan anak selanjutnya ya. Mksh udh ngasih info ini biar sekali2 pas terima rapor, aku bs tanya ke gurunya soal ini.

  8. Bener banget, Di.. aku setuju dengan berbagai pertanyaan yang wajib ortu tanyakan dengan walas di atas. Apalagi anak-anakku kan pesantren yaah… jadi, kepantaunya lebih banyak oleh ustadzahnya di sekolah.
    Kalo uda terima raport, biasanya dikasih jatah per-orangtua sekitar 20-25 menit karena anaknya diminta presentasi dulu mengenai perkembangan dan tantangan yang berhasil mereka lewati di semester itu.

    Kalo uda masuk ajang curhat nih.. biasanya aku luapin apapun yang aku rasain ketika berinteraksi dengan ananda di rumah dan aku selaraskan dengan di sekolah.
    Jadi, sama-sama saling koreksi jika ada kesulitan yang dialami, baik dari segi sosialnya ataupun cara belajarnya.

    Semoga dengan saling ngobrol begini.. kita gak bermudah-mudahan dalam mendidik anak yaa.. tetap kudu kerjasama dengan pihak sekolah sehingga terbentuk karakter dan pribadi anak yang islami dan tangguh menghadapi zamannya.

  9. Banyak juga ya ternyata yang perlu ditanya ke guru atau wali kelas terkait anak. Sepuluh pertanyaan yang butuh jawaban lumayan detail serta pengamatan keseharian yang cukup serius. Selalu salut sama para guru yang bisa memperhatikan setiap muridnya secara detail. Keren banget asli jadi guru. Pas ngeliat list pertanyaan ini.

    Apakah mbak selalu bertanya begitu ke para wali kelas setiap tingkat sekolah anak? Mendapatkan jawaban yang diinginkan atau banyak pertanyaan malah tidak terjawab? Jujur aku penasaran sih.

    Bener adanya, ajang pembagian raport bukan momen penghakiman tetapi proses evaluasi secara adil.

  10. Iya, acara terima rapor jadi kesempatan buat ortu untuk bertanya perkembangan anaknya di sekolah, kalau aku suka tanya apakah anaknya bisa mengikuti pelajaran di kelas, apa bisa bergaul dengan teman-teman dan apakah aktif di kelas..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore